Secarik Pesan untuk Lampung Tengah

Secarik Pesan untuk Lampung Tengah

Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist

Tabik pun...

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Lampung Tengah adalah rumah kita, tanah tumpah darah yang mewariskan banyak kebaikan. Sebagai bagian dari masyarakat yang mencintai daerah ini, izinkan saya menyampaikan sebuah pesan dari hati yang paling dalam. Sebuah renungan sederhana, bukan untuk menggurui, melainkan untuk saling mengingatkan demi kebaikan masa depan bumi Beguai Jejamo Wawai yang kita banggakan.

Menyelami Rasa dan Merawat Silaturahmi

Kita, masyarakat Lampung, dikenal memiliki piil—harga diri dan kehormatan yang dijunjung tinggi. Ini adalah identitas luhur kita. Namun, ada kalanya harga diri ini menjadi ujian. Jika tersentuh oleh hal yang salah atau salah penempatan, tak jarang kita menjadi nganar (gelap mata) atau mengambil tindakan yang ngawur.

Bila ketegangan itu datang, ketahuilah bahwa solusinya bukanlah amarah atau adu urat saraf. Solusi dari setiap persoalan adalah komunikasi yang baik, silaturahmi yang tak terputus, keterbukaan hati, serta kemauan untuk saling mengerti dan memahami rasa. Menurunkan nada bicara untuk mendengar keluh kesah saudara kita bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan.

Tinggalkan Ego "Paling Hebat" dan "Adu Dekeng"

Mari kita renungkan sejenak: pantaskah kita merasa paling hebat, paling berani, dan paling segalanya di atas bumi milik Tuhan ini?

Salah satu kebiasaan buruk yang kerap merusak tatanan persaudaraan kita adalah kegemaran "adu jaringan" atau "adu dekeng" (bekingan). Kita beradu kehebatan, saling unjuk kekuatan, lalu setelah semua itu terjadi, apa yang sebenarnya kita dapatkan? Sering kali, kemenangan dari perselisihan semacam itu hanya memberikan kepuasan semu, namun meninggalkan luka dan perpecahan yang panjang di tengah masyarakat.

Kembali ke Akar: Beguai Jejamo Wawai

Sudah saatnya kita kembali meresapi makna Beguai Jejamo Wawai—bekerja bersama-sama untuk kebaikan. Jika kita berbuat salah, janganlah gengsi untuk meminta maaf. Meminta maaf adalah sifat ksatria.

Di sisi lain, jika kita memiliki kelebihan, mari berbagi. Berbagi itu luas maknanya dan tidak melulu menyoal materi. Sebuah senyuman yang tulus, gelak tawa yang mencairkan suasana, hingga untaian doa kebaikan untuk saudara kita secara diam-diam, adalah bentuk sedekah yang sangat mulia.

Keberkahan Rezeki dan Menjauhi Dendam

Ada satu hal penting yang ingin saya bagikan sebagai kesaksian hidup. Alhamdulillah, dalam perjalanan nasib, saya kerap dipertemukan dengan orang-orang baik. Saya sangat meyakini, semua ini bukanlah karena kehebatan saya sendiri, melainkan buah dari rezeki yang baik dan halal. Saya adalah saksi bagaimana kedua orang tua saya membesarkan, memberi makan, dan menyekolahkan saya dari rezeki yang baik—rezeki yang dicari dengan keringat halal, tanpa pernah menyakiti hati orang lain.

Maka, carilah rezeki yang baik untuk keluarga. Bantulah orang lain, mudahkanlah jalan hidup mereka, dan berikanlah solusi bila ada yang tertimpa masalah. Jangan pernah kita mewariskan dendam kepada anak cucu kita. Dendam hanya akan menjadi beban sejarah yang menghancurkan masa depan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait