Saat Jarum Jam Berlari, Mimpi Para Calon Dokter Sedang Diuji
Sebanyak 71 mahasiswa Fakultas Kedokteran UM Metro mengikuti OSCE untuk menguji keterampilan klinis, komunikasi, dan profesionalisme.--Ist
METRO, RADARMETRO.DISWAY.ID – Denting bel memecah keheningan. Seorang mahasiswa menarik napas panjang sebelum melangkah memasuki ruangan kecil bertanda Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Beberapa menit ke depan akan menjadi penentu. Tak ada tepuk tangan, tak ada sorak kemenangan. Hanya ada waktu yang terus berjalan, instruksi yang harus dipahami dalam hitungan detik, dan keyakinan bahwa seluruh ilmu yang dipelajari selama ini kini harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Begitulah suasana yang menyelimuti pelaksanaan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), yang berlangsung selama dua hari, 29–30 Juni 2026. Sebanyak 71 mahasiswa, terdiri atas 22 mahasiswa angkatan 2024 dan 49 mahasiswa angkatan 2025, mengikuti ujian yang menjadi salah satu tahapan penting dalam mengukur kompetensi klinis calon dokter.
Bagi sebagian orang, dua hari mungkin hanya sekadar angka dalam kalender. Namun bagi para peserta, setiap menit adalah rangkaian perjuangan yang telah dipersiapkan berbulan-bulan. Malam-malam yang dihabiskan bersama buku, latihan keterampilan klinis yang dilakukan berulang kali, diskusi tanpa mengenal waktu, hingga doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, semuanya bermuara pada ruang-ruang ujian tempat kemampuan mereka diuji secara langsung.
Di setiap stasiun OSCE, peserta dihadapkan pada berbagai skenario klinis yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Mereka dituntut mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, komunikasi terapeutik, hingga berbagai prosedur medis dengan tepat dan sistematis.
BACA JUGA:FIKOM UM Metro Siapkan Mahasiswa KKN Melalui Pembekalan Bertema Desa Cerdas dan Mandiri
Di ruang itu, waktu seolah menjadi lawan yang tidak pernah memberi kesempatan kedua. Setiap instruksi harus dipahami dengan cepat, setiap tindakan harus dilakukan secara akurat, dan setiap keputusan harus lahir dari ketenangan berpikir. Sebab dalam dunia kedokteran, ketelitian bukan sekadar kemampuan, melainkan fondasi yang kelak akan menentukan keselamatan pasien.
Namun lebih dari sekadar menguji keterampilan, OSCE menjadi ruang refleksi bagi setiap mahasiswa. Ujian ini mengajarkan bahwa ilmu kedokteran tidak cukup dihafalkan, tetapi harus dihayati dan diwujudkan dalam setiap tindakan profesional yang penuh empati dan tanggung jawab.
Sesaat setelah keluar dari ruang ujian, raut tegang perlahan berubah menjadi senyum lega. Bukan karena semua soal terasa mudah, melainkan karena mereka telah berhasil melewati satu tahap penting dalam perjalanan panjang menuju profesi dokter.
Salah seorang mahasiswa angkatan 2025, Chandra, mengaku setiap detik selama ujian terasa begitu berharga.
"OSCE kali ini benar-benar mantap, tapi juga lumayan menegangkan. Rasanya setiap detik begitu berharga karena setiap keputusan bisa menentukan hasil. Semoga semua perjuangan ini berbuah manis, tidak ada yang remedial, dan seluruh teman-teman bisa pulang membawa nilai A," ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Lira, mahasiswa angkatan 2024. Baginya, OSCE bukan hanya menjadi alat ukur capaian belajar, tetapi juga menjadi cermin untuk melihat kemampuan yang masih perlu terus diasah.
BACA JUGA:Assoc. Prof. Dr. Dwi Santoso Ungkap Kunci Lolos PhD: Tentukan Bidang Keahlian yang Spesifik
"Jujur, OSCE kemarin bikin deg-degan banget. Tapi justru dari situ aku sadar ternyata masih banyak yang harus aku pelajari. Pengalaman ini benar-benar melatih cara berpikir, ketelitian, dan skill klinis kami. Terima kasih untuk para dokter dan panitia yang sudah mempersiapkan OSCE ini. Semoga ke depannya pelaksanaannya semakin baik, ada feedback setelah ujian agar kami bisa terus berkembang, dan semoga kami semua diberikan hasil yang terbaik. Aamiin," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: