Kampung Kreatif Metro: Pemberdayaan, Ecosystem Builder & Pengalaman Payungi

Kampung Kreatif Metro: Pemberdayaan, Ecosystem Builder & Pengalaman Payungi

Kampung Kreatif Metro: Pemberdayaan, Ecosystem Builder & Pengalaman Payungi. --Ist

Oleh: Dharma Setyawan

Founder Payungi

 

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Kota-kota di Indonesia hari ini sedang dijangkiti penyakit seragam: fetishisme pembangunan fisik. Keberhasilan seorang kepala daerah kerap diukur secara dangkal dari seberapa banyak beton yang ditancapkan, seberapa tinggi gedung yang menjulang, atau seberapa mewah kantor dinas yang dibangun. Pembangunan dipersempit menjadi sekadar estetika arsitektural dan modernitas visual yang sering kali alienatif dari ruang hidup warganya.

Dalam perlombaan estetika beton yang serba dangkal ini, Kota Metro di Lampung jelas akan kalah. Ia tak memiliki bentang keindahan alam yang spektakuler, tak punya jajaran gedung pencakar langit, bahkan kalah mentereng dibanding daerah tetangganya, Bandar Lampung model kota Metropolitan, Kabupaten Lampung Selatan, Pesisir Barat dan Pesawaran dengan pantainya, atau Kabupaten Tulang Bawang Barat yang belakangan gencar bersolek dengan bangunan-bangunan ikonik.

Namun, mengukur keunggulan sebuah kota hanya dari fisik bangunan adalah sesat pikir urbanisme. Metro tidak perlu latah meniru Jakarta atau kota-kota besar lain dengan memaksakan proyek-proyek fisik megah yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Keunggulan hakiki Metro justru terletak pada apa yang kerap diabaikan oleh para perencana kota konvensional: modal manusia yang kondusif, ingatan sejarah yang melekat pada ruang-ruang hidup, serta daya tahan warganya yang tumbuh rapat dari akar rumput.

Secara historis, keunikan Metro terbentuk dari penomoran bedeng warisan kolonial—seperti 21D, 15 Polos, 22, 29, hingga 16C. Ini bukan sekadar penanda alamat di KTP atau garis batas administratif, melainkan jejak memori kolektif dan ikatan sosial yang membentuk karakter warganya. Ketika tanah Metro tidak menyediakan kekayaan sumber daya alam ekstraktif yang melimpah, dan ketika tawaran terbaik narasi kota ini selama bertahun-tahun hanyalah “tempat nyaman bagi para pensiunan”, kreativitas warga menjadi satu-satunya jalan keluar. Kenyamanan hari tua tentu tidak boleh ditafsirkan sebagai kemandekan intelektual dan kebudayaan. Metro harus tetap menjadi kota yang tenang, tanpa harus menjadi kota yang mati ide.

Di sinilah pentingnya membalik logika pembangunan: mengembalikan pembangunan berbasis manusia melalui gerakan kampung kreatif. Mengembangkan kampung kreatif bukan sekadar urusan memoles tembok dengan mural, mengecat jalanan, atau menggelar lapak jualan di akhir pekan. Gerakan ini adalah upaya merebut kembali ruang kota agar tetap inklusif dan humanis. Di tengah arus individualisme yang kerap dibawa oleh para pemukim dan perumahan-perumahan baru, gerakan kampung hadir sebagai pengingat bahwa kota ini bertahan karena semangat gotong royong dan relasi sosial yang hangat.

Inti dari pemberdayaan masyarakat di kampung kreatif bukanlah komodifikasi ekonomi semata, melainkan pendidikan berbasis komunitas. Sebuah gerakan kampung tidak boleh berhenti pada selebrasi visual, melainkan harus menyasar pada peningkatan kualitas manusianya. Ketika kapasitas, daya kritis, dan literasi warga meningkat, kreativitas tidak lagi muncul sebagai kejutan sesaat, melainkan melembaga menjadi sebuah siklus kegiatan yang berkelanjutan. Pada titik inilah kampung kreatif bertransformasi menjadi pusat pembelajaran (learning center) yang hidup. Ia menjadi ruang belajar terbuka di mana keragaman 21 subsektor ekonomi kreatif—dari seni pertunjukan, kuliner, kriya, desain, hingga media digital—tumbuh secara organik berdasarkan keunikan dan karakter lokal tiap-tiap kampung, bukan hasil pemaksaan dari atas (top-down).

Pengalaman menggerakkan Payungi (Pasar Yosomulyo Pelangi) di Metro memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana perjalanan sebuah kampung berinterogasi langsung dengan gagasan kebudayaan. Payungi tidak didesain sekadar sebagai arena transaksi ekonomi mikro atau pasar kaget mingguan, melainkan sebuah laboratorium sosial. Melalui sublimasi nilai-nilai pemberdayaan—seperti kerangka Pancadaya yang memadukan dimensi pengetahuan, pergerakan, pengorbanan, kebudayaan, hingga kesejahteraan—kualitas manusia terus diproduksi dan direproduksi. Ekonomi kreatif yang tumbuh di Payungi hanyalah buah manis di permukaan; akarnya yang menghujam dalam adalah proses belajar dan mengorganisir diri secara kolektif.

Namun, untuk menjaga agar gerakan-gerakan kampung di berbagai sudut tidak berjalan sendiri-sendiri secara terisolasi, konsep ecosystem builder (pembangun ekosistem) menjadi sangat krusial. Pengalaman belajar di Pasar Kolaboraya 2026 1-3 September 2026 oleh Roemah Inspirit semakin meyakinkan bahwa keterhubungan adalah hal fundamental. Perubahan sosial di level akar rumput tidak boleh lagi bergantung pada mitos single hero atau figur pahlawan tunggal. Ekosistem membutuhkan kerja-kerja kolektif yang dijalankan melalui setidaknya delapan peran kunci pembangun ekosistem: mulai dari menjadi penghubung (connector) antar-inisiatif, fasilitator perjumpaan, penganyam potensi lokal, penjaga nilai-nilai dasar gerakan, hingga pemantik inovasi komunitas.

Persoalannya, bagaimana para pembangun ekosistem ini menyediakan ruang yang genuin bagi para penggerak kampung? Selama ini, negara maupun lembaga donor sering terjebak dalam pola hubungan seremonial: mengumpulkan penggerak warga di hotel-hotel mewah, mendengarkan sosialisasi pengetahuan satu arah, membagikan sertifikat, lalu selesai tanpa bekas. Praktek seremonial semacam ini terbukti gagal menyentuh substansi gerakan karena tidak membangun ikatan emosional dan pengalaman praksis bersama.

Para penggerak kampung tidak butuh sosialisasi abstrak; mereka membutuhkan ruang untuk saling bertukar pengalaman (peer-to-peer learning) yang didasari oleh kebutuhan saling belajar antar-komunitas. Tawaran konkret yang harus disorongkan adalah Program Live-In Kampung Kreatif.

Melalui model live-in, para penggerak dari berbagai kampung tidak sekadar duduk mendengar ceramah, tetapi tinggal bersama warga, mereguk atmosfer keseharian, merasakan peluh persiapan pasar kampung, ikut dalam lingkaran diskusi malam warga, hingga memahami secara langsung bagaimana konflik dinamika lokal diselesaikan. Ada proses sublimasi pengetahuan empiris (tacit knowledge) yang hanya bisa ditularkan ketika tubuh, pikiran, dan rasa hadir secara utuh di tengah-tengah komunitas. Live-in menawarkan pengalaman bertubuh yang meruntuhkan sekat-sekat teoritis dan melahirkan rasa empati serta solidaritas antar-penggerak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: