Prof. Admi Syarif, PhD
Dosen Unila dan tukang tulis
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Saat ini kita telah memasuki pertengahan bulan Ramadhan, bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Artinya, hari raya Idul Fitri kian mendekat. Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinantikan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ia bukan sekadar momentum ibadah puasa, tetapi juga bulan penuh keutamaan, ketika setiap amal saleh dilipatgandakan pahalanya. Karena itu, kita dianjurkan memperbanyak kebaikan dan menahan diri dari segala kemaksiatan.
Menjalani Ramadhan di negeri orang selalu menghadirkan cerita tersendiri. Saya berkesempatan merasakan suasana puasa di beberapa tempat di luar Lampung—di Jepang, Malaysia, Australia, Singapura, bahkan di Bandung. Masing-masing memiliki warna dan kesan yang berbeda.
Di Indonesia, suasana Ramadhan terasa begitu semarak. Di Bandar Lampung misalnya, jalanan kerap macet menjelang berbuka. Warga berbondong-bondong berburu takjil. Di sekitar Way Halim, pedagang kelapa muda menumpuk ribuan butir kelapa setiap hari. Aneka sayur matang dan penganan berbuka berjajar di sepanjang jalan. Hotel dan rumah makan dipenuhi keluarga serta sahabat yang ingin berbuka puasa bersama.
Lalu, bagaimana suasana Ramadhan di Singapura?
Saya dua kali menjalani Ramadhan di negeri Singa ini, saat menanti kelahiran ananda Tasya (2010–2012). Selama di sana, kami tinggal di apartemen adik yang saat itu memimpin kantor cabang Bank Negara Indonesia (BNI) di Singapura.
Beberapa hari sebelum Ramadhan tiba, kapal cepat dari Batam Center menuju Singapura sudah dipadati penumpang. Antrean mengular. Aura menyambut bulan suci mulai terasa bahkan sebelum hilal diumumkan.
Meski Muslim merupakan minoritas di Singapura, semarak Ramadhan tetap terasa kuat, terutama di kawasan komunitas Melayu seperti Bedok dan Geylang. Pernak-pernik khas Ramadhan menghiasi sudut-sudut kota. Spanduk ucapan selamat berpuasa terpasang di berbagai tempat. Suasananya syahdu sekaligus meriah.
Pusat keramaian Ramadhan ada di kawasan Geylang Serai, yang dikenal sebagai Kampung Melayu. Menjelang puasa, ratusan tenda didirikan untuk bazar Ramadhan. Kawasan ini menjadi titik temu masyarakat Melayu, termasuk warga Indonesia yang bermukim di Singapura.
Di pasar Ramadhan Geylang, tersedia beragam buah tropis—durian, rambutan, kelengkeng, hingga duku. Musim itu adalah musim durian; deretan durian Musang King tersusun rapi, menggoda mata dan selera. Aneka kuliner pun melimpah: nasi lemak, soto ayam, sate, mi bakso, hingga gorengan singkong, ubi, dan pisang.
Saya sempat mencicipi gorengan cempedak—pengalaman rasa yang baru bagi saya. Ada pula gulai tulang kaki kambing pedas khas Malaysia yang menggugah selera. Menjelang sore, bazar semakin ramai. Aneka juadah dan kue tradisional tersaji sebagai menu berbuka.
Biasanya, Geylang mulai ramai sejak pukul empat sore. Waktu berbuka di Singapura sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Kawasan ini dikenal sebagai sentra makanan halal dan dapat dicapai sekitar 30 menit dari Lucky Plaza di Orchard Road.
Beberapa kali saya dan istri tercinta, Yulia, berbuka di Geylang atau Bedok. Kami berangkat sekitar pukul empat sore, menyusuri bazar, mencicipi berbagai hidangan—mulai dari masakan India, nasi lemak, hingga es durian. Seperti di Indonesia, tersedia pula cendol, cincau, dan timun suri. Harga memang sedikit lebih tinggi dibandingkan di tanah air, tetapi kehangatan suasana Ramadhan terasa sama: penuh kebersamaan dan kebahagiaan.