METRO, RADARMETRK.DISWAY.ID — Fluktuasi harga bahan pokok, khususnya minyak goreng dan gula pasir, masih menjadi keluhan utama pedagang dan masyarakat di sejumlah pasar tradisional di Kota Metro. Kenaikan harga yang tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan membuat beban ekonomi semakin terasa.
Di Pasar Pingled, seorang pedagang sembako, Mary (63), mengungkapkan bahwa harga gula pasir saat ini berada di kisaran Rp18.000 per kilogram atau Rp855.000 per sak. Menurutnya, harga tersebut masih tergolong tinggi dan berpotensi kembali naik.
"Kalau gula naik harganya, tetap Rp18.000 per kilo. Tapi satu saknya itu Rp855.000," ujarnya, Sabtu, (11/04).
Selain gula, harga minyak goreng juga bervariasi tergantung merek. Minyak goreng merek Rose Brand dijual sekitar Rp22.000 per liter, sementara merek Kurnia berada di kisaran Rp18.000 per liter. Kondisi ini membuat pedagang harus menyesuaikan stok dengan daya beli masyarakat.
BACA JUGA:Sambut Indonesia Emas 2045, IPNU-IPPNU Lampung Luncurkan Pusat Inkubator Bisnis UMKM
Senada dengan itu, Heri (38), pemilik toko sembako di Pasar Kopindo, menyebutkan bahwa harga minyak goreng saat ini sebenarnya mulai mengalami penurunan, namun berlangsung secara bertahap.
"Turunnya sedikit-sedikit, nggak langsung drastis. Patokannya dari minyak kiloan. Kalau itu turun, yang lain ikut," jelasnya.
Meski demikian, ia tetap berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga karena kenaikan bahan pokok turut berdampak pada pelaku usaha kecil.
Sementara itu, di Pasar Cendrawasih, pedagang lain, Karni (53), mengatakan bahwa harga gula sebelumnya berada di angka Rp17.000 per kilogram, namun kini naik menjadi Rp18.000. Untuk minyak goreng, harga yang sebelumnya sekitar Rp19.000 kini mencapai Rp20.000 per liter, khususnya untuk merek Tawon.
Dampak kenaikan harga ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Liza (26), seorang ibu rumah tangga, mengaku harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.
BACA JUGA:Geliat Bisnis Sepatu di Sukarame: Strategi 'Live Streaming' Jadi Kunci Penjualan
"Kalau harga naik terus, sementara pendapatan segitu-segitu aja, ya jelas nyusahin masyarakat. Soalnya setiap hari pasti harus masak,"tuturnya.
Ia berharap harga bahan pokok dapat segera kembali normal agar masyarakat bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang tanpa tekanan ekonomi yang terus meningkat.
Kondisi ini semakin memprihatinkan di tengah sulitnya lapangan pekerjaan. Kombinasi antara harga kebutuhan pokok yang tinggi dan pendapatan yang stagnan dinilai berpotensi memperburuk kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah.
Para pedagang dan warga pun berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan harga bahan pokok di pasaran, sehingga daya beli masyarakat dapat kembali pulih. (Sagita Enjellina)