RADARMETRO.DISWAY.ID -- Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Metro, Fajri Arif Wibawa, S.Pd., M.Pd., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan penguatan kesadaran pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan kampus yang diselenggarakan oleh UIN Jusila.
Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 24 April 2026, mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB, bertempat di Gedung Academic Center Kampus 2 UIN Jusila. Peserta kegiatan merupakan mahasiswa dari Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Tadris Matematika yang antusias mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir.
Dalam pemaparannya, Fajri Arif Wibawa menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif di kalangan civitas akademika untuk mencegah terjadinya kekerasan dan perundungan di lingkungan kampus. Ia menjelaskan bahwa kampus sebagai ruang intelektual seharusnya menjadi tempat yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mahasiswa, baik secara akademik maupun personal.
“Kekerasan dan perundungan bukan hanya persoalan individu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Diperlukan komitmen seluruh elemen kampus untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berintegritas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga memaparkan berbagai bentuk kekerasan dan perundungan yang kerap terjadi di lingkungan pendidikan tinggi, mulai dari verbal, non-verbal, hingga kekerasan berbasis relasi kuasa. Selain itu, ia mengajak mahasiswa untuk berani bersuara, melaporkan, serta menjadi agen perubahan dalam menciptakan budaya kampus yang positif.
Menariknya, dalam kegiatan ini peserta juga diajak untuk mengikuti sesi role playing secara berkelompok. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk memerankan berbagai peran, seperti pelaku, korban, dan saksi dalam situasi kekerasan atau perundungan yang disimulasikan. Melalui metode ini, peserta diajak memahami dinamika yang terjadi dalam kasus bullying serta belajar bagaimana merespons secara tepat dan empatik terhadap setiap peran yang ada.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa berlatih cara menghadapi situasi kekerasan, baik sebagai korban yang perlu melindungi diri dan melapor, sebagai saksi yang diharapkan berani bertindak dan tidak diam, maupun sebagai pihak yang harus menyadari dampak negatif dari perilaku perundungan. Kegiatan ini disambut antusias karena memberikan pengalaman langsung dan pemahaman yang lebih mendalam.
Kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, di mana para mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan terkait pengalaman serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan masing-masing.
BACA JUGA:UM Metro Gelar PILMAPRES 2026, Siapkan Mahasiswa Unggul Menuju Ajang Wilayah dan Nasional 2027
Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam memperkuat nilai-nilai anti kekerasan dan membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap pentingnya menjaga etika serta saling menghormati di lingkungan akademik.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan serta perundungan.