Shopping Center Metro?

Selasa 12-05-2026,11:50 WIB
Reporter : Dharma Setyawan
Editor : APL-01

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Sejarah Metro adalah sejarah perencanaan yang presisi. Sebagai onderafdeeling yang dirancang Belanda sejak 1935, Metro adalah kota yang unik di Lampung—sebuah kota yang tumbuh dari desain tata ruang, bukan sekadar pemukiman yang meluas tanpa arah. Bangunan-bangunan seperti Rumah dokter Swoning, RS Santa Maria, hingga kompleks perkantoran Wedana adalah bukti bahwa kota ini dibangun dengan fondasi sebagai pusat layanan publik dan intelektual. Namun, di tengah kota yang ramai lalu-lalang ada Shopping Center Metro, masih berdiri tapi sekaligus monumen kegagalan urus dan disorientasi visi pembangunan.

Dibangun pada dekade 1970-an dan mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat ekonomi Lampung Tengah pada era 1980-1990-an, Shopping Center awalnya adalah simbol modernitas kota kecil yang kreatif. Shoping Center sebagai agora—ruang pertemuan ekonomi warga. Namun, pasca-reformasi dan pembukaan kran demokrasi langsung, arah pembangunan Metro justru kehilangan kompas.

Meminjam istilah Jurgen Habermas, Shopping Center adalah contoh nyata bagaimana Ruang Publik (Public Sphere) telah mengalami pembusukan (refeudalization). 

Ruang yang seharusnya menjadi tempat interaksi komunikatif warga, kini dikolonisasi oleh kepentingan politik pragmatis dan birokrasi yang bebal. Alih-alih menjadi motor ekonomi kreatif, ia justru menjadi beban administratif yang dibiarkan membusuk selama berpuluh-puluh tahun.

Ada korelasi linier antara kualitas kepemimpinan di Metro dengan sistem demokrasi padat modal. Ketika biaya untuk menduduki kursi eksekutif dan legislatif begitu mahal, maka output kebijakan yang dihasilkan bersifat transaksional. Pembangunan tidak lagi berbasis pada kebutuhan sosiologis warga, melainkan pada proyek-proyek fisik yang "mudah dihitung" secara komisi namun nihil fungsi.

Ironi ini diperparah dengan tumbuh suburnya LSM dan "pemain proyek" yang menjadi kaki tangan kekuasaan. 

Fenomena ini bukan lagi rahasia, melainkan fenomena bahkan patologi nasional. Infrastruktur dibangun bukan untuk keberlanjutan, tapi untuk memenuhi kuota serapan anggaran. Akibatnya, Shopping Center yang membutuhkan sentuhan visi dan kolaborasi—dilempar-lempar seperti bola panas antara aturan hukum dan klaim kepemilikan, sementara pedagang kecil tersingkir oleh ketidakpastian.

Arah pembangunan Metro ke depan tampak gagap menghadapi perubahan zaman. Masuknya pemasaran online mungkin juga bagian faktor tapi bukan alasan utama matinya Shopping. Penyebab aslinya, Metro mengalami kegagalan memanen SDM kreatif. Metro memiliki surplus akademisi, seniman, dan anak muda potensial, namun pemerintah kota tampak "alergi" memberikan porsi besar bagi mereka untuk mengelola ruang.

Pemerintah seringkali baru bicara soal "aturan" dan "administrasi" justru ketika ada inisiatif warga yang ingin menghidupkan ruang tersebut. Ini adalah taktik menunda-nunda (stonewalling) yang menunjukkan ketiadaan keberanian politik (political will). Jika pemerintah tetap defensif dan hanya mengandalkan pendekatan pembangunan fisik tanpa narasi kebudayaan, Metro hanya akan menjadi kota transit yang kering dari inovasi.

Kegagalan Shopping Center adalah kegagalan kolektif, namun kesalahan terbesar ada pada pemangku kebijakan yang memiliki wewenang eksekusi.

Pertama, Eksekutif harus berhenti bersikap seperti manajer properti yang hanya menghitung retribusi, dan mulailah menjadi arsitek peradaban.

Kedua, Perguruan Tinggi jangan hanya puas menjadi pabrik ijazah. Jika kampus-kampus besar di Metro tidak mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan kota. Maka mereka hanyalah menara gading yang terputus dari realitas sosial.

Ketiga, Komunitas & UMKM harus terus melalukan upaya pergerakan dari bawah, namun tanpa "pintu yang dibuka" oleh regulasi, energi kreatif ini akan jenuh dan pindah ke kota lain yang lebih mengapresiasi talenta.

Metro butuh keberanian untuk meruntuhkan tembok birokrasi yang menyandera Shopping Center. Jika pemerintah kota terus lamban merespons keresahan publik, maka mereka sebenarnya sedang menghentikan arus manusia kreatif yang ingin berjuang memberi kontribusi meramaikan kota. Ditambah Metro sebagai kota pendidikan dan kreativitas, tiap tahun selalu banyak orang baru datang untuk menimba ilmu. Isu Shopping Center kali ini adalah ujian leadership, apakah Kota Metro mampu memenangkan pengetahuan atau menyerah dan diam dibalik aturan? 

Dharma Setyawan 

Kategori :