ALERTA! Borneo Lautan Api, 17 Ribu Titik Kebakaran Berada di Habitat Orangutan

Jumat 04-09-2026,12:57 WIB
Reporter : Faqih
Editor : APL-01

YOGYAKARTA, RADARMETRO.DISWAY.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi kawasan ekosistem Borneo. Bencana ini tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa liar yang bergantung pada hutan, termasuk Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Pemantauan terbaru Geopix menunjukkan adanya peningkatan signifikan aktivitas kebakaran di kawasan habitat orangutan selama periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026. Analisis tersebut dilakukan dengan menggunakan data resmi pemerintah melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, yang kemudian dibandingkan dengan sebaran wilayah habitat Orangutan Kalimantan.

Hasil kajian tersebut mengungkap bahwa sebanyak 17.375 titik api tercatat berada di dalam kawasan habitat Orangutan Kalimantan pada Agustus 2026. Angka tersebut menjadi jumlah tertinggi selama periode pemantauan, dengan persebaran titik panas yang terlihat jauh lebih luas dan padat dibandingkan kondisi pada Juni dan Juli 2026.

Secara keseluruhan, dari 22.744 titik api yang teridentifikasi di seluruh wilayah Kalimantan, sebanyak 17.865 titik atau sekitar 78,5 persen berada di dalam kawasan habitat orangutan.


BACA JUGA:Tingkatkan Literasi Media, PWI Pringsewu Ajarkan Dasar Jurnalistik kepada Siswa MAN 1

Dampak kebakaran juga terlihat dari luas wilayah yang terdampak. Geopix mencatat sekitar 25,8 juta hektare kawasan terbakar berada di area habitat orangutan, atau setara dengan sekitar 60,2 persen dari total habitat Orangutan Kalimantan yang mencapai 42,8 juta hektare.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya menyebabkan kerusakan tutupan hutan, tetapi juga berpotensi mengganggu berbagai aspek penting bagi kehidupan orangutan, mulai dari ketersediaan sumber makanan, pohon tempat membuat sarang, jalur jelajah, hingga keberlanjutan populasi di alam liar.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyampaikan bahwa dampak kebakaran hutan saat ini menjadi persoalan besar yang dirasakan oleh manusia maupun satwa liar.

"Doa, pikiran, dan solidaritas kami untuk seluruh masyarakat Indonesia yang menjadi korban akibat krisis kebakaran hutan dan lahan. Situasi ini menjadi pukulan berat, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi satwa liar yang kehilangan habitatnya," ujar Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati kepada radarmetro.disway.id, Kamis (3/9/2026).

BACA JUGA:Akses Jalan Makin Lancar, Petani Padi di Mesuji Sebut Ongkos Angkutan Panen Kini Lebih Ringan

Wilayah Habitat Orangutan dengan Risiko Tinggi

Dalam analisis tingkat kerentanan terhadap karhutla, Geopix mengelompokkan sejumlah kawasan berdasarkan hubungan antara jumlah populasi orangutan dan intensitas titik api yang terjadi.

Wilayah Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit menjadi kawasan yang mendapat perhatian khusus karena memiliki kombinasi antara populasi orangutan yang lebih rentan dengan tekanan kebakaran yang tinggi. Kawasan tersebut dinilai membutuhkan langkah penanganan darurat untuk mencegah dampak yang semakin besar.

Sementara itu, wilayah Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau memiliki tingkat ancaman yang relatif lebih rendah. Upaya konservasi di kawasan tersebut diarahkan pada pemantauan kondisi habitat serta pemulihan ekosistem yang terdampak.

Adapun Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung menjadi kawasan strategis karena masih menjadi kantong populasi penting bagi orangutan. Perlindungan kawasan tersebut diperlukan untuk mencegah kehilangan habitat akibat kebakaran berulang.

Geopix memperingatkan bahwa risiko terhadap populasi orangutan dapat semakin meningkat apabila aktivitas kebakaran terus meluas, terutama di wilayah yang masih menjadi tempat hidup populasi yang tersisa.

Kategori :