100 Tahun Gontor: Mencari 100 Kebaikan

Jumat 18-09-2026,10:46 WIB
Reporter : Muhammad Ihsan Dacholfany
Editor : APL-01

Catatan Reflektif Reuni Akbar Alumni Pondok Gontor

Prof. Dr. M.Ihsan Dacholfany, M.Ed.(Alumni Pondok Pesantren Gontor)

 

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Reuni sejatinya bukan sekadar memutar ulang pita memori masa lalu. Ia adalah ruang untuk memuliakan jejak yang telah berlalu, sekaligus menata langkah menuju masa depan yang lebih bermakna.

Reuni santri pada hakikatnya adalah momen untuk menyalakan kembali napas perjuangan dan rasa syukur. Ini bukan wadah untuk mengungkit celah atau kenangan masa lalu yang tak sempurna, melainkan ruang untuk merawat kembali benih kebaikan yang pernah ditanam di pondok.

Sebagaimana pesan luhur pimpinan Gontor melalui kaidah *al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah* (serta ikhtiar tiada henti menuju *al-kamal*), reuni adalah ajang untuk:

Merawat fondasi lama: Menjaga nilai ketaatan, keikhlasan, dan kebaikan yang telah diwariskan para kiai.

Menjemput kemajuan: Terus berbenah dan mengupayakan hal baik yang lebih relevan untuk masa depan.

Melalui reuni, santri pulang bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk meneguhkan kembali identitasnya dan membawa pulang semangat kebaikan pesantren ke tengah masyarakat.

Di momen hangat ini, mari kita jaga hati satu sama lain. Jangan buka kembali lipatan aib kawan yang telah ditutup rapat oleh Allah. Hal yang puluhan tahun lalu terasa seperti kelakar polos anak remaja, bisa jadi hari ini menjelma luka yang menyayat.

Kita semua telah bertumbuh. Santri lugu yang dulu kita kenal, kini mungkin telah menjelma seorang kyai, guru, profesor, pengusaha, pejabat, ayah, atau bahkan seorang kakek. Jangan paksa siapa pun kembali menjadi sosok belasan tahun hanya karena memori kita terhenti di masa itu.

Jauhkan reuni ini dari ajang perbandingan dan flexing ( tindakan memamerkan kekayaan, barang mewah, status sosial, atau pencapaian secara sengaja di media sosial) ..Ada yang mengabdi di pesantren, memimpin lembaga, membesarkan usaha, mendidik di pelosok, atau menjalani hidup dalam kesederhanaan yang teduh. Ingatlah, setiap orang punya garis pengabdiannya masing-masing. Keberhasilan seseorang bukanlah alasan untuk merendahkan yang lain, dan kesederhanaan tak pernah bisa dijadikan pembenar untuk merasa lebih tinggi.

Jangan pula menghakimi masa lalu seseorang dengan kacamata hari ini. Kita semua berproses melalui tempaan waktu, langkah 100 dimulai dar langkah 1. Yang terpenting bukanlah siapa kita di masa lalu, melainkan menjadi siapa kita hari ini dan kebaikan, kebermanfaatan bahkan dampak apa yang telah kita tebarkan sepanjang perjalanan hidup kita yang akan dikenang dan menjadi amal jariyah..

Terimakasih Pimpinan Pondok, Ustadz, Sahabat yang telah mengingatkan kebaikan, memberi nasehat dan motivasi kami, kepada kami yang masih terus belajar dan belajar..

Datanglah untuk merajut kembali persaudaraan, bukan untuk menghitung pencapaian, bukan juga untuk menghitung siapa yang paling sukses atau paling tenar atau paling kaya dsb .

Kategori :