Sudah saatnya kita membebaskan pemberdayaan dari belenggu formalisme. Jangan biarkan meja-meja diskusi di ruang publik atau kawasan kampung dan desa berubah menjadi ruang kelas kaku yang membosankan dan berjarak dari realitas.
Di ruang-ruang pengetahuan yang cair masyarakat memiliki laboratoriumnya, pengalaman hidup warga adalah kurikulumnya, dan peningkatan kualitas hidup yang nyata adalah satu-satunya indikator kelulusannya.
*Penulis adalah Dosen UIN Jurai Siwo Lampung dan Inisiator Pasar Kreatif Payungi.