KOTA METRO, RADARMETRO.DISWAY.ID — Inisiatif Lampung Sehat (ILS) Kota Metro mengevaluasi program penanggulangan tuberkulosis (TB) bersama kader dan tenaga kesehatan untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan kualitas pelaporan, serta mengidentifikasi kendala pelaksanaan program di lapangan. Kegiatan berlangsung di Bengkel Perut, Kota Metro, Selasa,27/10/2026.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua ILS Lampung Sudiyanto, S.Sos., Sekretaris ILS Lampung, akademisi Universitas Wira Buana Metro Hikmahtul Khoiriyah,Hikmahtul Khoiriyah. S.ST., Bdn., M.Kes., M.Keb. selaku Wakil Rektor III UWB. serta Hadirn
Dekan Manajemen Universitas Wira Buana Haidir, S.E., M.M., pemateri dari dinas Kesehatan Kota Metro, Kabid Pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Metro, Verawati Nasution, serta perwakilan layanan Poli Paru RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro, pengurus ILS Lampung Timur, serta kader ILS dan kader TB dari sejumlah puskesmas di Kota Metro.
Ketua ILS Kota Metro Ali Nurdin, S.Ak., M.M., mengatakan evaluasi menjadi kesempatan untuk meninjau kinerja kader, koordinasi dengan puskesmas, serta ketertiban pelaporan kegiatan.
BACA JUGA:Wujudkan Generasi Unggul, FORSA Dorong Kolaborasi dan Persatuan Pelajar Yogyakarta
Menurutnya, pendampingan di lapangan perlu diimbangi dengan laporan yang tertib agar pelaksanaan program dapat dipantau dan diperbaiki.
“Evaluasi ini menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat kembali pelaksanaan program penanggulangan TB, mulai dari kinerja kader, komunikasi dengan puskesmas, hingga pelaporan kegiatan. Kami membutuhkan masukan dari petugas puskesmas dan para kader agar kendala yang dihadapi dapat diselesaikan bersama,” ujarnya.
Ali berharap keberlanjutan program pada tahun mendatang disertai penguatan kapasitas dan penyegaran kader. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas pendampingan masyarakat, termasuk membantu warga mengakses pemeriksaan dan mendukung pasien menjalani pengobatan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Ketua ILS Lampung Sudiyanto, S.Sos., menambahkan bahwa evaluasi akhir tahun menjadi momentum untuk meninjau pelaksanaan program sekaligus menyiapkan langkah perbaikan ke depan. Menurutnya, program kesehatan berbasis masyarakat membutuhkan kolaborasi antara organisasi masyarakat, kader, fasilitas kesehatan, pemerintah, dan perguruan tinggi.
“Penanggulangan TB membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar program tidak hanya terlaksana, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kami berharap kolaborasi dengan Universitas Wira Buana dan fasilitas kesehatan terus diperkuat untuk mendukung berbagai upaya kesehatan masyarakat,” kata Sudiyanto.
BACA JUGA:Jaga Pilkakon Tetap Aman, Polsek Gadingrejo Bersinergi dengan TNI dan Masyarakat
Ia menjelaskan, ruang lingkup kegiatan ILS tidak hanya berkaitan dengan TB, tetapi juga mencakup persoalan kesehatan lain, termasuk malaria dan kesehatan lingkungan. Karena itu, kerja sama lintas sektor diperlukan agar program dapat menjangkau masyarakat sesuai kebutuhan setiap wilayah.
Sementara itu, akademisi Universitas Wira Buana Metro, Dr. Hikmah, menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab persoalan masyarakat. Kolaborasi tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga, yakni kehidupan sehat dan sejahtera.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga harus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui SDGs Center Universitas Wira Buana, kami berharap dapat berkolaborasi dengan ILS, puskesmas, rumah sakit, dan pemerintah untuk mendukung program kesehatan,” ujarnya.
Hikmah menilai kader TB memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dan fasilitas kesehatan. Selain membantu mengarahkan warga untuk menjalani pemeriksaan, kader juga berperan memberikan edukasi serta mendampingi pasien selama pengobatan.