Waspadai El Nino! Ini Beberapa Wilayah di Tanggamus yang Rawan Kekeringan Ekstrem

Jumat 18-08-2023,14:24 WIB
Reporter : Albertus Yogi
Editor : Devi Oktaviansyah

RADARMETRO – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian tak mau kecolongan dalam menghadapi dampak fenomena El Nino.

Bahkan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi Dampak El Nino di Kalimantan Selatan Jumat (11/8/2023) lalu, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo meminta seluruh pemerintah provinsi sampai kabupaten/kota untuk tidak terlalu percaya diri. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan semua pihak, terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari fenomena El Nino. 

Puncak terjadinya El Nino menurut prediksi BMKG, akan berlangsung pada bulan Agustus-September.

Hal itu akan berakibat pada musim kemarau yang lebih kering dari kemarau saat tidak terjadi El Nino seperti pada tahun 2020, 2021, dan 2022. 

Warning dari Menteri Pertanian RI dalam rakor di Kalimantan Selatan itu, lantas segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Tanggamus Catur Agus Dewanto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan strategi khusus untuk mengatasi fenomena El Nino ekstrem di wilayah Tanggamus. 

Menurut Catur, Pemerintah Kabupaten Tanggamus telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, guna mencegah dampak kekeringan menghadapi potensi puncak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada Agustus-September 2023. 

"Ya benar, dari pusat pun kita sudah di-warning untuk serius memetakan dampak puncak El Nino. Kalau untuk antisipasi di Kabupaten Tanggamus, kita sudah membentuk satuan tugas (satgas). Terdiri dari Dinas Pertanian, seluruh SDM, mulai dari kepala dinas sampai ke unsur kecamatan," ujar Catur, Jumat (18/8/2023).

BACA JUGA:BMKG Sebut Lampung Jadi Salah Satu Daerah Paling Terdampak El Nino

Langkah awal mitigasi, dia menjelaskan, adalah dengan melakukan pemetaan geografis terhadap wilayah rawan bencana kekeringan.

Berdasarkan pemetaan wilayah, Catur menyebutkan, Kecamatan Bulok, Pugung, dan Pematangsawa, itu berpotensi alami kekeringan.

”Pemicu kekeringan di daerah tersebut, yakni minimnya sumber air bersih di beberapa wilayah tersebut,” kata Catur.

Guna menanggulangi kekurangan air yang diperkirakan akan melanda di daerah pertanian beberapa kecamatan tersebut, pihaknya akan menurunkan sejumlah unit mesin pompa air. 

"Di dinas, kita punya cadangan 15 unit pompa air. Antisipasinya dengan cara meminjamkan pompa air itu," katanya. 

Catur menambahkan, jika kondisi semakin kering, dampak lanjutannya adalah lahan dan hutan menjadi mudah terbakar.

Kategori :