Wajik dan Dodol: Makanan Khas Lebaran Ulun Lampung Penuh Makna dan Doa

Wajik dan Dodol: Makanan Khas Lebaran Ulun Lampung Penuh Makna dan Doa

Wajik dan Dodol: Makanan Khas Lebaran Ulun Lampung Penuh Makna dan Doa--Ist

BANDAR LAMPUNG, RADARMETRO.DISWAY.ID – Tanpa terasa, beberapa hari lagi, Hari Raya Idul Fitri sudah tiba. Pastinya kita semua akan menyambut kehadiran sanak keluarga dan handai taulan dengan penuh suka cita. Berbagai makanan khas Lebaran ulun LAMPUNG tentu sudah mulai berjejer di atas meja. Bicara soal kuliner LAMPUNG memang tidak ada habisnya.

Kali ini, kembali saya ingin memperkenalkan salah satu makanan khas Lebaran ulun Lampung. Kira-kira apa ya? Pastinya bangek-bangek ya, gaes! Namun sebelum kita bahas, kita sajikan pantun berikut seperti dahulu kala.

Kuda mana yang tuan senangi,

Tentu yang hitam cepat larinya;

Gadis mana yang tuan cari,

Gadis Lampung putih kulitnya.

Pantun lama ini seakan membawa ingatan kembali pada kenangan puluhan tahun lalu. 

Saat menjelang Lebaran, berbagai kue atau juadah dibuat bersama-sama di rumah. Sebagai anak-anak, kami tentu tidak tinggal diam. Ada yang bertugas memarut kelapa, menyiangi daun pisang untuk alas kue, menumbuk ketan, atau sekadar menjaga api di tungku agar tetap menyala. Sesekali kami juga diminta menggantikan ibu atau para orang tua untuk mengaduk adonan dodol yang berat dan panas itu. Walaupun tangan terasa pegal, ada rasa bangga karena merasa ikut mengambil bagian dalam persiapan hari raya.

Salah satu makanan yang hampir selalu ada di rumah ulun Lampung adalah wajik dan dodol. Sekali lagi, bukan hanya sekadar pelengkap hidangan. Bagi ulun Lampung, kedua penganan ini memiliki makna yang dalam. Bahkan, banyak orang tua meyakini bahwa di dalamnya tersimpan doa dan harapan.

Lalu, makna dan doa apa yang tersirat sehingga pada hari raya Lebaran hampir selalu ada wajik dan dodol?

Wajik dan dodol sebenarnya dibuat dari bahan dasar yang hampir sama, yaitu gula kelapa atau gula aren, santan, dan beras ketan hitam. Wajik Lampung sudah sangat dikenal hingga sekarang dan mudah ditemui di pasar-pasar tradisional. Umumnya wajik berwarna cokelat, karena menggunakan gula kelapa atau gula aren sebagai pemanisnya.

Makanan lain yang juga biasanya wajib ada adalah dodol. Sama seperti wajik, dodol Lampung juga dibuat dari ketan hitam dan gula kelapa. Perbedaannya, ketan hitam untuk dodol biasanya ditumbuk terlebih dahulu sebelum dimasak.

Proses pembuatan kedua makanan ini membutuhkan waktu yang lama, terutama pada saat mengaduk adonan yang dalam bahasa Lampung disebut ngegaleu.

Terkenang saat Lebaran puluhan tahun lalu, kami anak-anak pasti mendapat tugas membantu ngegaleu dodol atau wajik menjelang hari raya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: