Kembali ke Lombok: Sebuah Doa yang Terkabul
Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist
Setelahnya, Tuhan berbaik hati memberi jeda yang damai dengan memulangkan saya ke Lampung Tengah, sebelum akhirnya di tahun 2026 ini, langkah saya bersiap menuju Praya, Lombok Tengah.
Kini, angin membawa layar perahu saya kembali ke Nusa Tenggara Barat. Sejujurnya, Lombok bukanlah tempat yang asing bagi saya. Di pulau inilah, di masa lalu, saya memantapkan hati memilih wanita yang kini menjadi pendamping hidup saya. Di bawah semilir angin pantainya, saya pernah membisikkan sebuah doa dalam hati, "Suatu saat nanti, saya ingin sekali bertugas di tanah yang indah ini."
Siapa sangka, semesta bekerja sebagaimana mestinya. Tuhan mendengar bisikan itu dan mengabulkannya hari ini.
Menyebut nama Praya dan Lombok Tengah tentu langsung mengingatkan kita pada surga dunia—pantai berpasir merica yang menawan dan budaya Sasak yang agung. Terlebih dengan hadirnya Bandara Internasional Lombok (BIL) dan gemuruh Sirkuit Mandalika yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Denyut ekonomi dan laju investasi berdetak sangat kencang di tanah ini.
Tapi di sinilah nurani saya kembali dipertaruhkan. Jika ada satu hal yang paling mengubah cara saya melihat manusia, itu adalah amanah panjang yang saya emban di Bidang Intelijen.
Bagi orang awam, kata 'intelijen' mungkin terdengar kaku, berjarak, rahasia, atau bahkan menakutkan. Tapi percayalah, justru di medan sunyi inilah kemanusiaan saya paling dalam diuji dan diasah.
Menjadi intelijen kejaksaan tidak mengizinkan saya untuk duduk nyaman di ruangan ber-AC di balik meja kayu yang tebal. Pekerjaan ini memaksa saya untuk turun, melebur, menanggalkan pangkat, dan benar-benar membumi. Pendekatan terbaik kami bukanlah seberapa keras kami mengangkat pedang keadilan, melainkan seberapa tulus kami duduk bersila di balai desa, mengaduk kopi hitam bersama tokoh adat, dan sungguh-sungguh mendengarkan keluh kesah masyarakat di warung-warung kecil.
Intelijen mengajarkan saya untuk melihat hukum tidak sekadar sebagai deretan pasal yang kaku dan dingin. Sebagai jaksa intelijen di Lombok nanti, keindahan alam dan derasnya investasi itu adalah anugerah yang harus dikawal dengan sangat hati-hati. Di balik megahnya pembangunan, ada hak-hak masyarakat lokal yang tak boleh terinjak. Ada kearifan lokal suku Sasak yang tak boleh luntur tergantikan beton. Tugas saya adalah meraba wilayah ini dengan kelembutan, memastikan bahwa hukum hadir bukan sebagai alat yang menindas si kecil demi kemajuan, melainkan sebagai pelindung yang memastikan kemakmuran itu benar-benar dicecap oleh tuan rumah di tanahnya sendiri.
Penegakan hukum dan intelijen, pada titik tertingginya, adalah tentang bagaimana kita memanusiakan manusia.
Setiap kali merenungkan perjalanan ini, rongga dada saya selalu penuh oleh rasa syukur yang membuncah. Saya merasa sangat, sangat beruntung. Manakala ada yang mengasihani karena menganggap penempatan saya jauh, saya selalu menundukkan kepala. Saya teringat wajah teman-teman seangkatan saya di luar sana. Mereka yang harus menerjang ombak ganas berminggu-minggu, atau menyusuri jalan tanah membelah hutan tanpa sinyal telepon hanya untuk sampai ke tempat tugas.
Dibandingkan dengan keringat dan kesepian mereka di pelosok negeri, tugas saya yang selalu berdampingan dengan akses bandara adalah sebuah kemewahan yang tak pantas saya keluhkan. Merekalah pejuang-pejuang keadilan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, cerita ini hanyalah sebuah catatan kecil untuk merawat rasa syukur. Sebagai putra daerah, sejauh apa pun kaki ini melangkah membawa seragam Adhyaksa, falsafah Lampung akan selalu menjadi detak jantung saya. Nilai Nengah Nyappur—tentang bagaimana kita harus membuka diri, merangkul perbedaan, dan beradaptasi—serta Piil Pesenggiri—tentang menjaga kehormatan dan martabat—akan terus menjadi kompas yang memandu saya bergaul di tanah Sasak nanti.
Lombok Tengah telah memanggil. Tugas baru untuk membaca lembaran nasib manusia di wilayah yang baru sudah menunggu di depan mata. Di bumi mana pun kaki ini berpijak, hukum mungkin harus ditegakkan dengan tegas, tapi kemanusiaan harus selalu dirangkul dengan penuh kelembutan.
Dan diam-diam, di dalam hati, saya masih menyimpan satu doa lagi tentang sebuah tempat tugas yang ingin saya tuju suatu hari nanti. Akankah semesta kembali mengabulkannya? Biarlah waktu yang menjawab. Nantikan cerita perjalanan Adhyaksa saya berikutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: