Membaca Strategi Pemasaran Aldi’s Burger dalam Perspektif Manajemen Strategik Kontemporer
Antrean, Viralitas, dan Fomo: Strategi Sunyi di Balik Ledakan Pasar--Ist
Oleh: Nurris Septa Pratama, MM
Akademisi Universitas Wira Buana | Direktur Eksekutif CP2Ma Universitas Wira Buana
Editor: Guswir
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Antrean panjang di gerai Aldi’s Burger, Cempaka Putih Jakarta, pada awal April 2026 bukan sekadar euforia viral sesaat. Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam lanskap pemasaran, perhatian publik kini menjadi komoditas strategis, sementara keunikan personal branding menjelma sebagai sumber keunggulan kompetitif.
Di balik gaya komunikasi Aldi Taher yang kerap dianggap absurd, sesungguhnya bekerja secara mekanisme pemasaran yang selaras dengan teori manajemen modern. Apa yang tampak spontan, dalam kacamata akademik justru mencerminkan praktik strategis yang terstruktur, meski tidak selalu disadari.
Hal ini sejalan dengan konsep guerrilla marketing yang diperkenalkan Jay Conrad Levinson dalam Guerrilla Marketing (1984), bahwa pemasaran efektif tidak selalu membutuhkan biaya besar. Kreativitas, energi, dan dengan keberanian tampil berbeda justru menjadi faktor penentu. Dalam konteks ini, Aldi memanfaatkan persona publiknya sebagai aset utama, sebuah strategi yang relevan bagi pelaku UMKM di era digital.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan kerangka Resource-Based View dari Jay Barney (Journal of Management, 1991), yang menempatkan sumber daya unik sebagai fondasi keunggulan kompetitif. Persona Aldi yang autentik memenuhi kriteria bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak tergantikan, sehingga menjadi motor utama penciptaan nilai.
Autentisitas ini juga diperkuat oleh pandangan Hubert Rampersad (2009) yang menegaskan bahwa konsistensi identitas adalah kunci keberlanjutan merek personal. Dalam praktiknya, gaya komunikasi Aldi yang apa adanya justru memperkuat kepercayaan publik.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari logika attention economy. Herbert Simon sejak 1971 telah mengingatkan bahwa kelimpahan informasi akan melahirkan kelangkaan perhatian. Gagasan ini diperkuat oleh Michael Goldhaber (1997) yang menyebut perhatian sebagai “mata uang” utama di era digital.
Dalam konteks tersebut, konten yang memicu reaksi, bukan yang paling rapi, sering kali justru paling efektif. Gaya komunikasi Aldi yang repetitif dan emosional menciptakan interaksi tinggi, yang kemudian diperkuat algoritma media sosial. Mekanisme ini membentuk viral loop, sebagaimana dipopulerkan Eric Schmidt.
Dari sisi perilaku konsumen, fenomena ini juga digerakkan oleh Fear of Missing Out (FOMO). Studi Andrew K. Przybylski dkk. (2013) menunjukkan bahwa individu terdorong untuk ikut serta dalam pengalaman yang sedang ramai dibicarakan. Antrean panjang dan unggahan media sosial menjadi sinyal kelangkaan dan bukti sosial (social proof), sebagaimana dijelaskan Robert B. Cialdini (1984).
Dalam perspektif sosiologi, realitas “burger viral” tidak hadir begitu saja. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966) menjelaskan bahwa realitas dibentuk melalui interaksi sosial. Bahkan, konsumsi dalam konteks ini juga menjadi simbol identitas, sebagaimana dijelaskan Pierre Bourdieu (1979).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: