Praktik Spivak di Pesta Babi
Dharma Setyawan, Founder Payungi--Ist
Setelah Pesta Babi apa yang harus dilakukan banyak orang atau kelompok-kelompok intelektual?
Pertama, membuat Ruang Publik Tandingan. Karya tersebut menciptakan ruang alternatif di mana warga bisa melihat kebenaran tanpa melalui institusi yang restriktif.
Kedua, Dekolonisasi Sensorium. Kita belajar untuk menggeser batas-baas mengenai apa yang layak dilihat, didengar, dan dirasakan dalam tatanan sosial. Mendesak pengurus negara dan aparatnya harus bertransformasi dari sekadar "penegak hukum" menjadi arsitek pendengaran sosial.
Berhenti Menjadi Ventriloquis. Negara tidak boleh lagi bersikap seolah-olah berbicara "atas nama" rakyat (seperti boneka perut) sementara sebenarnya menutup akses rakyat untuk mewakili diri mereka sendiri.
Menciptakan Ruang Reseptif. Pengurus negara harus memiliki kerendahan hati epistemik dan berani mendengarkan kebenaran yang tidak nyaman tanpa bersikap defensif. Pejabat harus berani mengakui kegagalan sistemik daripada menutupinya dengan jargon stabilitas.
Kesadaran Kelompok Intelektual
Intelektual harus menyadari bahwa mereka juga terlibat dalam melanggengkan kekerasan epistemik. Para intelektual berhenti bersikap sebagai "subjek yang berdaulat" yang merasa paling tahu cara membebaskan subaltern. Para aktivis juga harus waspada terhadap romantisasi kaum tertindas, yang menurut Spivak justru mendukung praktik kolonial yang ingin dilawan.
Berdasarkan peringatan Spivak, para aktivis intelektual, perlu menghindari fabel transparansi. Menghindari ilusi bahwa ia bisa menghadirkan subjek marginal secara "transparan" dan murni tanpa pengaruh bias posisinya sendiri sebagai intelektual. Akhirnya tanpa sadar melalukan komodifikasi subaltern. Menghindari pengubahan aspirasi politik subaltern menjadi sekadar "konten" atau komoditas yang sesuai dengan ekspektasi audiens, yang justru bisa menghapus pesan asli mereka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: