Layar yang Memisahkan, Jabatan yang Sementara: Sebuah Renungan Anjau Silau
Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist
Oleh: Dr. Alfa Dera, S.H., M.H.M.M.
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Tabik Pun...
Di beranda rumah panggung masa lalu, atau di ruang tamu masa kini, pernahkah kita merasakan kesunyian di tengah keramaian? Kita duduk bersebelahan, bahu saling bersentuhan, namun hati kita berjarak ribuan kilometer. Mata kita tidak lagi menatap lawan bicara, melainkan tertunduk khusyuk pada kotak bercahaya di genggaman tangan.
Inilah fenomena zaman yang perlahan menggerus jiwa Ulun Lampung. Kita mulai melupakan esensi "Anjau Silau".
Dahulu, Anjau Silau bukan sekadar bertamu. Ia adalah ritual hati. Kita datang untuk memastikan saudara kita sehat, periuk nasinya terisi, dan hatinya gembira.
Saat itu, "Nemui Nyimah" (santun dan pemurah saat menerima tamu) terasa begitu hangat. Tuan rumah memuliakan tamu dengan senyum tulus dan hidangan terbaik, dan tamu membalasnya dengan doa dan kabar baik.
Namun kini? Nemui Nyimah kita seringkali terhalang layar kaca. Tamu datang, kita sibuk membalas pesan WhatsApp. Saudara berkunjung, kita sibuk swafoto demi status media sosial. Kita "hadir" secara fisik, tapi "absen" secara rasa. Kita menjadi dekat di maya, namun asing di dunia nyata. Jangan sampai teknologi yang seharusnya mendekatkan yang jauh, justru menjauhkan yang dekat.
Pangkat Hanyalah Sampiran, Bukan Kulit
Selain gawai yang membius, ada satu lagi penyakit hati yang sering membuat kita lupa diri: Pangkat dan Jabatan.
Seringkali kita merasa bahwa kekuasaan adalah abadi. Kita berjalan membusungkan dada, merasa paling hebat, dan merendahkan orang lain. Padahal, falsafah tua mengingatkan kita: "Mak ngemik kekuasaan sai abadi" (Tidak ada kekuasaan yang abadi).
Jabatan, seragam, dan pangkat di pundak ini hanyalah "sampiran", baju titipan yang sewaktu-waktu bisa tanggal. Ia bukan kulit yang dibawa mati. Ketika masa purna tiba, atau ketika Tuhan memanggil pulang, semua atribut itu akan luruh. Yang tersisa hanyalah nama baik dan kenangan tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia. Apakah kita diingat sebagai sosok yang Nengah Nyappur (pandai bergaul dan rendah hati), atau sebagai sosok angkuh yang ditakuti namun tidak dihormati?
Jangan Mewariskan Bara Dendam
Karena kekuasaan dan perselisihan duniawi ini hanyalah sementara, maka ada satu pesan leluhur yang paling menohok: Janganlah memelihara kebencian yang berlebihan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: