'Fakar' di Antara Pilar Demokrasi: Refleksi Marwah, Luka, dan Jalan Kemerdekaan

'Fakar' di Antara Pilar Demokrasi: Refleksi Marwah, Luka, dan Jalan Kemerdekaan

Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist

Oleh: Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M.

 

(Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah)

 

RADARMETRO.DISWAY.ID -- DEMOKRASI tidak pernah mati dalam keheningan; ia mati di tengah kebisingan yang kehilangan makna. Di antara riuh rendah arus informasi hari ini, kita perlu menundukkan kepala sejenak untuk merenungi nasib sebuah profesi yang menjadi saka guru (tiang utama) bangsa ini: Jurnalisme dan Aktivisme Sipil.

Tulisan ini saya awali dengan sebuah takzim—penghormatan setinggi-tingginya—kepada para sahabat jurnalis dan aktivis profesional. Merekalah "penjaga nyala api" yang rela menembus hujan, debu, dan intimidasi demi menyuarakan kebenaran. Tanpa pena mereka yang tajam dan nurani mereka yang jernih, kekuasaan akan berjalan tanpa spion, dan rakyat kecil akan kehilangan corong suaranya. Negara ini berutang budi pada ketulusan mereka.

Tulisan ini pun lahir bukan dari menara gading, melainkan dari rahim kecintaan yang mendalam. Jauh sebelum takdir menuntun saya mengenakan seragam Adhyaksa sebagai pelayan masyarakat dan penegak hukum, saya pernah menghirup udara yang sama dengan rekan-rekan jurnalis. Saya pernah menjadi bagian dari denyut nadi pers di salah satu majalah terkemuka di Jakarta.

Saya tahu persis bagaimana rasanya mengejar tenggat waktu, menahan lelah demi sebuah konfirmasi, dan merasakan kebanggaan ketika tulisan kita mampu menyuarakan mereka yang tak bersuara. Bagi saya, menulis opini kritis ini adalah sebuah ikhtiar merawat ingatan—sebuah manifestasi Jasmerah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah)—bahwa darah jurnalisme pernah mengalir di nadi saya. Karena pernah mencintai profesi inilah, saya tidak rela wajahnya dinodai.

Namun, justru karena kecintaan kita pada marwah profesi inilah, hati kita teriris melihat fenomena lain yang kini menjamur. Kita sedang menyaksikan munculnya benalu yang menggerogoti pohon demokrasi dari dalam. Saya menyebutnya fenomena "Fakar"—mereka yang berlagak Pakar, namun sejatinya Fakir ilmu, etika, dan adab.

Patologi Sosial: Ketika Kebodohan Menyamar

Fenomena "Fakar" ini bukan sekadar kenakalan oknum, melainkan sebuah patologi sosial yang serius. Mereka hadir dengan atribut mentereng, mengalungkan kartu pers atau identitas lembaga kontrol sosial, namun perilakunya jauh dari kode etik. Alih-alih melakukan verifikasi (cover both sides), mereka melakukan intimidasi. Alih-alih menyajikan data, mereka menyodorkan proposal perdamaian di ruang tertutup.

Secara akademis, perilaku ini dapat kita bedah melalui pisau psikologi kognitif yang disebut Dunning-Kruger Effect. Ini adalah sebuah bias di mana individu dengan kompetensi rendah menderita superioritas ilusif. Mereka merasa paling paham hukum, paling mengerti anggaran, dan paling berhak menghakimi pejabat publik. Padahal, agresivitas dan teriakan lantang mereka di media sosial sejatinya adalah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk menutupi rasa rendah diri (inferiority complex) akibat ketidakmampuan bersaing secara profesional.

Dalam tinjauan kriminologi, sosiolog Robert K. Merton melalui Strain Theory (Teori Ketegangan) memberikan penjelasan yang masuk akal. Para oknum ini terjebak dalam ketegangan antara hasrat budaya (ingin kaya, ingin dihormati) dengan ketiadaan sarana yang sah (kompetensi, kerja keras). Ketika jalan meritokrasi terasa terjal karena minimnya skill, mereka memilih jalan pintas: "inovasi menyimpang". Kartu pers direduksi fungsinya dari alat perjuangan menjadi sekadar alat tawar (bargaining power) untuk memeras.

Lebih dalam lagi, jika kita menyentuh dimensi sosiologi-spiritual, fenomena ini adalah lonceng peringatan tentang degradasi peradaban. Kita sedang berada di fase di mana rasa malu telah menguap. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, "Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu."

Hari ini, kita melihat manifestasi nyata dari hadis tersebut. Fitnah diproduksi sebagai komoditas, aib orang lain diperdagangkan, dan ketakutan pejabat dijadikan lahan nafkah. Orientasi hidup yang terjebak pada hubbuddunya (cinta dunia berlebihan) telah mematikan sensor moral, sehingga rezeki yang haram pun terasa manis di lidah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: