Kembali ke Lombok: Sebuah Doa yang Terkabul
Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist
RADARMETRO.DISWAY.ID -- "Sekarang tugas di mana?"
Pertanyaan itu hampir selalu menjadi sapaan pembuka setiap kali saya bersua dengan kerabat atau kawan lama. Sebuah tanya sederhana yang hangat, yang belakangan ini selalu saya jawab dengan senyum ringan, "Sekarang masih di Lampung Tengah. Insyaallah, habis Lebaran ini sudah mulai geser tugas ke Praya, Lombok Tengah."
Mendengar jawaban itu, raut wajah mereka nyaris tak pernah meleset dari dugaan. Mata yang sedikit membesar, alis yang terangkat, dan sebuah seruan yang meluncur spontan, "Wah, jauh banget!"
Saya biasanya hanya membalas reaksi itu dengan tawa kecil. Di mata banyak orang, jarak sering kali hanya diukur dari rentang angka kilometer di peta, atau seberapa lama punggung kita harus bersandar di kursi pesawat terbang.
Namun, di balik seragam cokelat ini, jarak memiliki makna yang sama sekali berbeda. Jarak adalah kepingan napas pengabdian.
Menjadi seorang Jaksa—menjadi bagian dari keluarga besar Adhyaksa—memang begitulah jalan hidupnya. Sejak hari pertama saya mengucap sumpah, saya sadar telah mewakafkan sebagian kompas hidup saya kepada negara.
Berpindah dari satu titik ke titik lain di gugusan pulau negeri ini bukanlah sebuah beban yang harus diratapi, melainkan sebuah pelukan pada risiko profesi yang harus dijalani dengan dada lapang dan keikhlasan.
Namun, di balik ketegasan hukum yang saya tegakkan, saya tetaplah seorang manusia biasa; seorang suami dan seorang ayah. Ada hati yang sering kali diam-diam meronta ketika rindu pada keluarga datang menyergap di tengah malam yang sepi di tanah rantau.
Berpindah-pindah kota tentu bukan hal yang adil bagi anak-anak yang butuh akar untuk tumbuh, dan bagi seorang istri yang butuh ketenangan. Itulah sebabnya, lewat sebuah perenungan panjang, kami mengambil keputusan emosional sekaligus strategis: memilih Jakarta sebagai homebase.
Jakarta adalah simpul bertemunya segala rute. Dengan menempatkan keluarga di penyangga ibu kota, anak-anak memiliki stabilitas untuk sekolah dan bertumbuh. Sementara bagi saya, kapan pun rindu itu sudah terasa terlalu berat di dada, bandara selalu terbuka untuk membawa saya pulang sejenak. Kemudahan akses ini adalah kemewahan yang membuat saya bisa mengabdi di mana pun dengan hati yang tenang.
Menengok ke belakang, tak terasa tapak tilas ini sudah berjalan menyusuri waktu 11 tahun. Sebelas tahun yang merangkum tawa, air mata, peluh, dan pelajaran hidup di berbagai tanah yang saya pijak.
Langkah ini bermula dari ufuk timur Indonesia, di sebuah pulau bernama Waikabubak, Nusa Tenggara Timur. Di tanah eksotis yang jauh dari bisingnya mal dan kemewahan kota itu, saya belajar tentang ketangguhan hidup yang sesungguhnya dari masyarakat adat setempat.
Roda waktu kemudian berputar, membawa saya "pulang kampung" mengabdi di Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Tanggamus di Pringsewu. Ada rasa haru yang luar biasa ketika lisan ini kembali leluasa menggunakan bahasa daerah dalam melayani masyarakat di tanah kelahiran sendiri.
Namun, rumah tak pernah menjadi tempat menetap yang abadi bagi pengabdi negara. Takdir memanggil saya untuk menembus kerasnya ibu kota di Kejaksaan Negeri Depok. Hampir enam tahun saya digembleng di sana. Depok adalah kawah candradimuka yang ritmenya begitu beringas, memaksa saya untuk berlari cepat dan mendewasakan diri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: