Praktik Spivak di Pesta Babi
Dharma Setyawan, Founder Payungi--Ist
Oleh: Dharma Setyawan, Founder Payungi
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Gayatri Chakravorty Spivak, seorang tokoh sentral dalam teori postkolonial dan feminisme. Dia mengenalkan konsep subaltern, yaitu kelompok masyarakat marginal yang suaranya sering kali terbungkam oleh dominasi kekuasaan politik dan ekonomi. Spivak mengkritik fenomena kekerasan epistemik, di mana cara pandang Barat dipaksakan untuk menggantikan identitas serta pengetahuan asli masyarakat jajahan.
Spivak menekankan pendidikan estetika dan humaniora sebagai instrumen vital untuk mencapai keadilan global serta pemberdayaan perempuan di era globalisasi. Pertanyaan penting, bagaimana kelompok terpinggirkan dapat memperoleh kembali representasi dan agensi mereka di tengah struktur kekuasaan dunia yang timpang? Konsep subaltern menurut Gayatri Spivak merupakan hasil dari dekonstruksi terhadap pengertian proletariat tradisional Marxian.
Perbedaan utama antara keduanya dapat dilihat dari beberapa aspek; Pertama, Homogenitas vs Heterogenitas. Dalam pandangan Marxis tradisional, proletar dipahami sebagai kelas pekerja industri yang homogen, memiliki kepentingan identik, dan mampu menggerakkan perubahan politik secara terpadu. Sebaliknya, Spivak menegaskan bahwa subaltern tidak membentuk kelas yang koheren atau homogen. Subaltern bersifat fragmentaris dan mencakup berbagai posisi subjek yang sangat beragam sehingga tidak dapat disatukan di bawah satu label kelas sosial tertentu.
Kedua, Hierarki dan Mobilitas Sosial. Spivak menempatkan subaltern pada posisi yang jauh lebih rendah daripada proletar. Subaltern mencakup kelompok masyarakat yang terputus dari segala jalur mobilitas sosial, seperti petani buta huruf, suku aborigin, dan strata terendah dari sub-proletariat perkotaan. Jika seseorang memiliki akses untuk berorganisasi atau memiliki mobilitas sosial, maka menurut definisi Spivak, mereka bukan lagi subaltern.
Ketiga, Posisi dalam Kekuasaan. Proletar berada di dalam sirkuit ekonomi kapitalis sebagai penyedia tenaga kerja. Namun, subaltern berada sepenuhnya di luar struktur kekuasaan politik, sosial, dan ekonomi. Mereka adalah kelompok yang terpinggirkan dari sirkuit pembagian kerja internasional dan kekuasaan dominan di negara-negara bekas jajahan.
Keempat, Kemampuan untuk "Berbicara" (Audibilitas). Perbedaan paling radikal terletak pada masalah representasi. Proletar dapat diwakili secara politik (Vertretung). Namun, subaltern dicirikan oleh keheningan secara struktural. Keheningan ini bukan berarti mereka tidak bisa bersuara secara fisik, melainkan suara mereka tidak diakui sebagai "pengetahuan" atau tidak memiliki signifikansi transaksional dalam diskursus dominan. Hal ini disebabkan oleh kekerasan epistemik yang dilakukan oleh kolonialisme dan patriarki yang menutup akses audibilitas bagi mereka.
Bagi Spivak, subalternitas adalah kondisi di mana akses terhadap ruang representasi dan audibilitas dalam sistem kekuasaan yang berlaku telah tertutup sepenuhnya. Bagaimana menganalisis film "Pesta Babi", ke dalam teori Spivak? Dandhy Dwi Laksono dkk dalam memproduksi film tersebut telah melakukan upaya Darstellung. Dandhy mempraktikkan Darstellung (representasi sebagai potret/pelukisan estetika) untuk menghadirkan realitas Papua ke ruang publik. Namun, Spivak memperingatkan agar intelektual tidak mencampuradukkannya dengan Vertretung (bertindak sebagai wakil politik), karena intelektual seringkali merasa telah "menyuarakan" subaltern padahal potret yang dibuat justru berisiko menutupi kebutuhan politik nyata mereka.
Spivak juga menegaskan penting mendorong Unlearning Privilege. Dalam memproduksi karya, seorang intelektual harus melakukan proses belajar melepaskan hak istimewa (unlearning privilege). Ini berarti menyadari bahwa posisi Dandhy sebagai pembuat film memiliki kekuatan diskursif yang bisa secara tidak sengaja membungkam subjeknya jika tidak bersikap rendah hati secara epistemik.
Spivak memperingatkan pentingnya jembatan empati. Jembatan empati dibangun bukan melalui pemberian instruksi, melainkan melalui beberapa hal. Pertama, Etika Mendengarkan. Mendengarkan tanpa Mendominasi. Etika ini menuntut intelektual untuk menciptakan "ruang reseptif" di mana suara marginal tidak dipaksa masuk ke dalam kategori atau bahasa kekuasaan. Kedua, Moral Love. Spivak menyebutnya sebagai "penyesuaian diri terhadap yang tak terdengar" (attunement to the unheard), di mana pengetahuan diperlakukan sebagai instrumen empati, bukan instrumen kekuasaan.
Pesta Babi Dari Noise ke Voice
Dalam teori Spivak, suara kaum subaltern (seperti orang Papua dalam konteks ini) seringkali hanya dianggap sebagai kebisingan (noise) oleh struktur kekuasaan karena tidak menggunakan "gramatika" politik modern yang diakui negara. Kegagalan Audibilitas menjadi Masalah utama, bukan karena mereka tidak bicara, melainkan ketidakmampuan sistem dominan (negara/media) untuk mendengar frekuensi suara mereka.
Tubuh sebagai Teks. Seperti kasus Bhubaneswari Bhaduri, ketika kata-kata dibungkam, subaltern berbicara melalui simbol, kehadiran fisik, dan tindakan kolektif. Melalui film, simbol-simbol ini dikonstruksi ulang agar memiliki "signifikansi transaksional" sehingga audiens mulai mengenali pesan politik di balik apa yang sebelumnya dianggap hanya sebagai gangguan ketertiban.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: