Lebih jauh lagi, dari beberapa nasihat orang tua, karena keduanya terbuat dari beras ketan yang lenget (lengket), dodol dan wajik juga dimaknai sebagai simbol eratnya hubungan persaudaraan dalam keluarga ulun Lampung. Seperti ketan yang lengket, demikian pula diharapkan hubungan kekeluargaan tetap menyatu, saling menjaga, dan tidak mudah terpisah.
Dengan demikian kehadiran wajik dan dodol di meja-meja Lebaran ulun Lampung Pepadun, melambangkan beberapa nilai penting:
• Kesabaran dalam menjalani kehidupan – sebagaimana dodol dan wajik yang memerlukan waktu lama untuk matang dengan sempurna.
• Gotong royong keluarga – biasanya dodol dimasak bersama oleh anggota keluarga menjelang hari raya.
• Keuletan dan ketekunan – keberhasilan membuat dodol mencerminkan kerja keras dan ketelatenan.
Momen Lebaran ulun Lampung dan berbagai kuliner yang menyertainya memang selalu menarik untuk dibahas. Di balik setiap hidangan, tersimpan nilai budaya, harapan, dan doa dari generasi terdahulu. Kekayaan tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya ulun Lampung telah hidup dan berkembang sejak lama.
Pada akhirnya, wajik dan dodol bukan sekadar makanan manis di hari raya. Keduanya adalah pengingat bahwa kehidupan memerlukan kesabaran, kebersamaan, dan hubungan persaudaraan yang tetap lengket seperti ketan yang dimasak bersama penuh cinta.
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.
Ingok! Dang lupo bahagia geh!
Prof. Admi Syarif, PhD
Dosen Unila dan tukang tulis