Oleh: Prof. Admi Syarif, PhD
Dosen Unila dan Tukang Tulis
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Hai, Gaes! Kali ini saya ingin kembali menuliskan sebuah cerita SERU tentang pengalaman menggunakan KMP Batu Mandi beberapa tahun lalu.
Seperti kita ketahui, pada Selasa, 20 Oktober 2026, kapal ini mengalami kebakaran ketika sedang mendekati Pelabuhan Merak, Banten, dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Kebakaran terjadi di perairan sekitar Pulau Merak Besar, saat kapal sedang bermanuver untuk bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak.
Peristiwa ini tentu menjadi perhatian masyarakat Lampung dan Banten. Maklum, KMP Batu Mandi merupakan salah satu kapal yang melayani jalur penyeberangan penting yang menghubungkan Sumatra dengan Jawa.
Meski penyebab kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan resmi, kita patut bersyukur karena, menurut konfirmasi ASDP, seluruh penumpang dan awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat.
Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh petugas pelabuhan, Basarnas, kepolisian, serta unsur terkait yang telah bekerja melakukan evakuasi. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran penting untuk terus meningkatkan keselamatan transportasi penyeberangan kita.
Nah, berbicara tentang KMP Batu Mandi, saya jadi teringat sebuah perjalanan keluarga ke Bandung pada Februari 2023. Yuk, kita kembali ke cerita itu!
Bandung, Kota Penuh Kenangan
Jumat, 24 Februari 2023, saya bersama sang pujaan hati, Yulia, dan putri tercinta, Tasya, melakukan perjalanan liburan ke Bandung. Selain ingin menikmati liburan singkat bersama keluarga, kebetulan salah seorang dosen saya, Prof. Sudradjat, akan mengadakan pesta pernikahan putranya di Graha Sanusi, Aula Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung.
Gedung ini juga menyimpan kenangan tersendiri bagi saya. Di tempat inilah, pada Juli 1985, saya pertama kali diterima sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran. Wah, kalau ingat masa-masa itu, rasanya seperti baru kemarin, padahal sudah puluhan tahun berlalu.
Terakhir kali kami sekeluarga ke Bandung adalah pada 2021. Bandung memang menjadi salah satu kota yang paling lama saya tinggali di Indonesia. Tak heran, rasanya seperti anak durhaka kalau tidak pulang ke Bandung setidaknya setiap dua atau tiga tahun sekali. Hehehe!
Apalagi jarak Bandar Lampung–Bandung sebenarnya tidak terlalu jauh. Dengan perjalanan darat dan penyeberangan yang lancar, kita bisa sampai dalam hitungan beberapa jam.
Bagi kami, Bandung juga merupakan surga kuliner. Mulai dari batagor, bubur ayam, sampai sate nenek yang lezat dan selalu bikin kangen. Jadi, perjalanan kali ini bukan hanya menghadiri pesta pernikahan, tetapi juga kesempatan bernostalgia dan berburu kuliner.
Siputih Siap Meluncur!