Dibalik Gema Takbir, Siapa Yang Menang?

Dibalik Gema Takbir, Siapa Yang Menang?

Dibalik Gema Takbir, Siapa Yang Menang?--Ist

Oleh: Prof. Syafrimen, Ph.D.

(Guru Besar dan Praktisi Pendidikan serta Psikologi Pendidikan)

Editor: Guswir

(Jurnalis Muhammadiyah)

 

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang berlangsung di Masjid Raya Pahlawan, Nagari Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, tidak hanya menghadirkan suasana khidmat, tetapi juga menyisakan satu ruang perenungan yang mendalam, pada Jum'at,20/3/2026.

Tahun ini, Idul Fitri hadir beriringan dengan hari Jum’at, sebuah pertemuan dua kemuliaan dalam satu waktu. Namun di balik suasana sakral dan kebahagiaan yang menyertainya, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: benarkah kita telah menang?

Gema takbir yang berkumandang sejak malam hingga pagi hari tidak sekadar menjadi tradisi tahunan. Ia adalah panggilan batin, pengingat akan kebesaran Allah sekaligus cermin untuk melihat diri. Takbir bukan hanya dilantunkan, tetapi semestinya direnungkan.

Sebab kemenangan dalam Islam tidak diukur dari apa yang tampak di permukaan. Ia bukan tentang pakaian baru, hidangan melimpah, atau kemeriahan suasana. 

Kemenangan sejati justru bersifat sunyi, terletak pada hati yang berubah, pada jiwa yang kembali, dan pada kedekatan yang semakin erat dengan Allah SWT.

Ramadhan yang telah berlalu seharusnya tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga perubahan. Ia adalah madrasah ruhani yang melatih kesabaran, menumbuhkan keikhlasan, serta membangun kesadaran spiritual. 

Maka pertanyaannya, apakah semua itu masih tersisa dalam diri kita hari ini?

Jika hati menjadi lebih lembut, jika ibadah terasa lebih hidup, dan jika kita semakin peka terhadap sesama, maka itulah tanda kemenangan. 

Namun jika Ramadhan berlalu tanpa bekas, tanpa perubahan yang berarti, maka boleh jadi kita hanya menjalani rutinitas, bukan meraih makna.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: