Forensik Kebencian: Membedah Anatomi "Suara Rakyat" di Era Algoritma
Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist
Oleh: Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M.
Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Dalam ilmu kedokteran, sebuah prinsip fundamental berlaku mutlak: kesalahan diagnosis berujung pada kesalahan pengobatan, dan kesalahan pengobatan bisa berakibat fatal. Jika seorang pasien menderita infeksi bakteri namun diberi obat anti-virus, penyakitnya tidak akan sembuh, malah bisa jadi makin parah.
Prinsip yang sama berlaku dalam penanganan krisis kepercayaan publik di era digital, khususnya bagi lembaga penegak hukum seperti Kejaksaan.
Ketika sebuah tagar negatif—misalnya desakan pencopotan pejabat atau tuduhan ketidakadilan—tiba-tiba memuncaki Trending Topic, reaksi insting birokrasi sering kali adalah kepanikan. Rapat digelar darurat dengan satu pertanyaan: "Apa yang harus kita lakukan?" Padahal, pertanyaan itu prematur. Pertanyaan yang seharusnya diajukan pertama kali oleh intelijen adalah: "Siapa yang membuat ini menjadi tren?"
Apakah ini suara organik; jeritan murni rakyat yang kecewa karena ketidakadilan yang kasat mata? Atau, apakah ini suara inorganik; sebuah operasi black campaign yang didanai oleh koruptor yang sedang kita sidik untuk menekan psikologis jaksa?
Membedakan keduanya adalah soal hidup dan mati reputasi institusi. Jika serangan itu organik, obatnya adalah empati, permintaan maaf, dan dialog. Namun, jika kita "meminta maaf" pada serangan inorganik—yang notabene adalah pasukan robot dan akun bayaran—kita sama saja menyerah pada manipulasi. Sebaliknya, jika kita melawan kritik murni rakyat dengan arogansi karena mengira itu serangan buzzer, kita sedang menyiram bensin ke dalam api.
Spektrum Serangan Siber
Dunia maya tidak lagi hitam putih. Kesalahan fatal para pemula adalah menganggap serangan siber itu biner: asli atau palsu. Realitasnya, kita menghadapi sebuah spektrum.
Pertama, ada yang murni organik (pure organic). Ini adalah kumpulan individu yang marah secara independen. Pemicunya biasanya ketidakadilan yang mencolok akal sehat. Ciri utamanya adalah narasi yang beragam; setiap orang berbicara dengan gaya bahasa sendiri, dan waktu posting yang acak sesuai waktu luang manusia normal.
Kedua, adalah fenomena Astroturfing atau "rumput palsu". Ini adalah gerakan palsu yang didesain agar terlihat seperti gerakan akar rumput. Istilah ini diambil dari merek rumput sintetis. Di sinilah peran "Forensik Kebencian" bermain. Para koruptor kelas kakap (Big Fish) yang sedang terjerat kasus, sering kali tidak hanya menyewa pengacara mahal, tetapi juga konsultan reputasi gelap (Dark PR). Dana hasil korupsi dialokasikan sebagai "dana perang opini" untuk menciptakan Astroturfing.
Ketiga, dan yang paling berbahaya, adalah serangan hibrida atau Cyborg Attack. Ini adalah gabungan antara mesin (bot) untuk menaikkan volume isu, dan manusia (buzzer) untuk berdebat di kolom komentar agar terlihat "hidup". Tujuannya satu: menciptakan ilusi bahwa "seluruh rakyat Indonesia" sedang marah, padahal yang marah hanyalah sekelompok akun ternakan yang dikendalikan dari satu laptop.
Triase Digital: Mendeteksi Kebohongan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: