Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah kepulauan yang terbesar di dunia.
Indonesia memiliki 17.499 pulau dari Sabang hingga Merauke. Luas total wilayah Indonesia adalah 7,81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Dengan memiliki cakupan wilayah kepulauan yang besar, tentunya Indonesia memiliki sumber daya alam pesisir yang cukup besar karena didukung adanya ekosistem terumbu karang, padang lamun dan mangrove (Lambonan, 2020)
Pencemaran laut di Indonesia menjadi topik perdebatan saat ini, dengan orang-orang yang menerapkan konsep. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk memperbaiki lingkungan.
Pemerintah Indonesia berencana untuk mengurangi sampah hingga 70% pada tahun 2025. Serta tidak akan ada limbah masyarakat (sampah) berakhir ke lingkungan atau sungai yang langsung bermuara ke laut.
Pemerintah bertanggung jawab dalam pengendalian dan pelestarian sampah, tetapi masyarakat juga harus mengambil bagian dalam berbagai hal untuk memperbaiki lingkungan. Kesadaran adalah kunci pembangunan berkelanjutan (Akbar&Maghfira, 2023)
Keberadaan sampah di lingkungan perairan memang telah lama menjadi salah satu masalah lingkungan, misalnya saja pada kejadian terjeratnya biota akuatik oleh sampah laut, terjadinya ghost fishing, dan bahkan kerusakan alat tangkap ikan akibat keberadaan sampah padat (Wicaksono, 2022)
Peristiwa pencemaran laut kerap terjadi di Indonesia merupakan akibat tumpahan minyak, tabrakan kapal dengan terumbu karang, pembuangan air limbah yang mencemari laut, dan masih banyak lagi.
Pencemaran-pencemaran tesebut tentu terdapat kerugian pencemaran dan kerusakan ekosistem pesisir dan laut dan menjadi hal yang penting untuk menghitung kerugian pencemaraan tersebut (Lambonan, 2020)
Kematian paus sperma di Wakatobi beberapa tahun yang lalu menunjukan bahwa Indonesia darurat sampah plastik. Hal ini dikarenakan ditemukannya 5,9 kg sampah.
Kejadian yang sama juga pernah terjadi. Sebanyak 13 paus sperma mati di bibir pantai Jerman, didalam perut paus tersebut
ditemukan gumpalan-gumpalan plastik yang mengisyaratkan bahwa dunia saat ini memiliki problem yang sama dalam pengelolaan sampah plastik.
Kematian paus sperma merupakan salah satu bahaya yang ditimbulkan oleh adanya sampah plastik di lautan.
Hal ini tidak menutup kemungkinan biota laut lainnya akan tidak sengaja memakan sampah plastik juga, karena mengganggap plastik tersebut merupakan makanan mereka (Lambonan, 2020)
Dampak sampah plastik di laut dapat membunuh spesies vertebrata dan invertebrata yang ada di laut akibat sampah plastik di lingkungan. Akibatnya dapat terkena lilitan, termakan, tersangkut, atau terikat.
Sampah di laut dapat dipercepat Invasi spesies asing (invasive species) yang terkait dengan sampah yang dipindahkan ke ekosistem lain, sampah plastik dapat menganggu Pertumbuhan habitat mangrove, terumbu karang, penyu, padang lamun dan biota laut lainnya dapat terhambat dengan adanya sampah plastik di dalam tanah yang merusak ekologi.