Memasak Kebenaran: Antara Gulai Taboh, Juadah, dan Jemari Digital Kita

Memasak Kebenaran: Antara Gulai Taboh, Juadah, dan Jemari Digital Kita

Alfa Dera, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah--Ist

Namun, apakah martabat atau Piil itu tetap kita jaga saat jemari kita asyik scrolling? Menyebarkan kabar yang belum tentu benar tentang orang lain, atau membagikan potongan video yang menyudutkan pihak tertentu hanya agar terlihat "paling tahu", sebenarnya sedang meruntuhkan martabat kita sendiri.

Menyajikan informasi bohong atau yang belum masak itu seperti menyuguhkan Juadah yang sudah basi atau mentah kepada tamu agung. Bukannya mendapat pujian, kita justru merusak nama baik sendiri dan mempermalukan keluarga. Martabat seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia membagikan berita yang viral, tapi seberapa bijak ia menahan diri dan memastikan informasi itu "masak" secara sempurna sebelum disebarkan ke tengah ulun banyak.

Menjadi Jaksa Bagi Diri Sendiri

Di kantor, saya harus menimbang setiap perkara berdasarkan bukti sah, fakta yang utuh, dan kejujuran saksi. Prosesnya panjang dan melelahkan karena keadilan tidak bisa lahir dari ketergesa-gesaan. Namun di ruang digital, Andalah "jaksa" bagi diri Anda sendiri. Sebelum jemari Anda bergerak membagikan sesuatu, jadilah penuntut yang kritis terhadap informasi tersebut.

Jangan biarkan diri kita hanya menjadi pemindai layar yang pasif. Sebelum berbagi, cobalah ingat proses memasak Gulai Taboh yang sempurna:

Cek Bahannya (Verifikasi): Apakah berita ini benar? Jangan-jangan ini hanya clickbait yang isinya jauh berbeda dengan judulnya yang provokatif.

Cek Bumbunya (Konteks): Apakah informasi ini lengkap? Informasi yang dipotong-potong seringkali sengaja dibuat untuk menciptakan kekacauan atau disinformasi.

Cek Penyajiannya (Manfaat): Apakah informasi ini bermanfaat bagi orang lain? Ataukah hanya akan memicu sentimen kebencian dan merusak keharmonisan di grup WhatsApp keluarga?

Penutup: Jaga Kedamaian Sang Bumi Ruwa Jurai

Agama diperuntukkan untuk membawa rahmat, dan salah satu caranya adalah dengan perintah Tabayyun. Budaya Lampung diciptakan untuk menjaga kehormatan manusia melalui laku yang santun. Mari kita jadikan media sosial kita seperti ruang tamu rumah adat kita—tempat yang bersih dari kotoran fitnah, penuh rasa hormat, dan hanya menyampaikan kebenaran yang membawa keteduhan bagi sesama.

Jangan sampai hanya karena satu jemari yang tidak sabar saat memindai layar ponsel di sela-sela waktu istirahat, kedamaian di Lampung Tengah yang kita cintai ini terkoyak. Mari kita menjadi warga digital yang cerdas, tidak mudah tersulut emosi, dan selalu menjaga adab.

Ingatlah, setiap kata yang kita ketik akan meninggalkan jejak permanen di dunia digital, dan setiap "hidangan" informasi yang kita bagikan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya—baik di hadapan hukum negara maupun di hadapan Sang Maha Mengetahui. 

Mari kita masak kebenaran dengan sabar, agar hidangan informasi yang kita sajikan selalu membawa berkah bagi semua

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: