1 Abad Pondok Gontor Jadi Kenangan dan Ingatan
Muhammad Ihsan Dacholfany, Alumni Pesantren Gontor, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Metro.--Ist
Oleh: Muhammad Ihsan Dacholfany, Alumni Pesantren Gontor, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Metro.
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Puncak peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) bakal dihadiri sejumlah tokoh penting dari dalam maupun luar negeri.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dalam acara Resepsi Kesyukuran dan Reuni Akbar 100 Tahun Gontor yang digelar di Pondok Gontor, Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026) bersama pejabat negara , duta besar dan pimpinan organisasi kemasyarakatan dan tamu undangan.
Namun bagi alumni Pondok Pesantren Gontor, acara Resepsi Kesyukuran dan Reuni Akbar 100 Tahun Gontor hal yang momen kenangan bersejarah yang sangat emosional, penuh nostalgia, dan kebanggaan bagi para alumni , wali santri, serta simpatisan.
Perayaan seratus tahun (1926–2026) ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi juga kilas balik perjuangan Trimurti pendiri Gontor.
Menurut Penulis ada banyak kenangan dan ingatan, suka duka cerita dan atmosfer emosional yang biasanya dirasakan saat bersiap hingga menghadiri momen langka ini, diantaranya :
Gelombang Kerinduan (Nostalgia) yang Memuncak Mengingat Masa Nyantri: Riuh persiapan membawa ingatan kembali pada masa-masa antre mandi, yahanu, yatamarodh, marosim, makan di dapur dengan salatoh rokhah, belajar di bawah lampu minyak atau lorong gedung, hingga disiplin ketat, jaros (lonceng)
Momen Bersama Sahabat: Mengingat kembali marhalah (angkatan) masing-masing. Pertanyaan seperti "Siapa saja yang bisa berangkat?" atau "Nanti kita kumpul di mana?" mendominasi grup-grup WhatsApp alumni berbulan-bulan sebelum acara.2. Perjalanan Menuju Kampung Damai Rute Bersejarah: Perjalanan darat,laut, udara menuju Ponorogo via Madiun, Solo, atau Surabaya selalu menghadirkan debaran tersendiri. Setiap kilometer mendekati Desa Gontor terasa seperti pulang ke rumah orang tua.Kemacetan yang Dirindukan: Antrean kendaraan yang mengular di sepanjang jalan menuju pondok tidak menjadi beban, melainkan bagian dari seni "sowan" massal yang penuh suka cita.
Atmosfer Magis di Dalam Pondok Lantunan Lagu "Oh Pondokku": Mendengar bait demi bait lagu hymne Gontor dinyanyikan bersama oleh puluhan ribu orang secara serentak sering kali membuat air mata menetes tanpa sadar, apalagi mendengar syiir abu nawas saat sholat jamaah, Wajah-Wajah Lama: Bertemu dengan teman seangkatan yang rambutnya mulai memutih, atau melihat kembali guru-guru (ustadz) sepuh yang dulu mendidik dengan ikhlas dan ketegasan.
Megahnya Perkembangan Fisik: Berdecak kagum melihat transformasi bangunan fisik pondok yang kian modern, namun tetap mempertahankan nilai-nilai panca jiwa, filosofi dan sintesa Pondok Gontor yang tak lekang oleh waktu.
Meresapi Nilai "Pondok Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan"Silaturahmi Lintas Generasi: Di tempat ini, semua status sosial melebur. Pejabat, guru pengusaha, kiai, bahkan profesor, hingga masyarakat biasa duduk bersama mengenakan sarung dan peci hitam, menghormati nilai-nilai keikhlasan dan kesederhanaan yang diajarkan Trimurti, yang semua nya adalah yang pernah dididik dan dibimbing serta dinasehati, semua itu adalah perjalanan pakaian yang sejatinya, diri kita adalah santri, mungkin saat kita kembali atau datang ke Pondok Pesantren Gontor, bukan kebanggaan atau menunjukkan apa yang telah capai atau miliki tapi melainkan rasa syukur dan bangga telah di bimbing di sana.
Semoga Allah tetap memberikan hidayah dan bimbingan kepada pimpinan Pondok, alumni , orangtua, santri dan partisan dengan tetap istiqomah dengan ajaran, nilai, sistem, filosofi ajaran Pondok Pesantren Gontor.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: