Pamong Pemberdayaan?
Dharma Setyawan, Dosen UIN Jurai Siwo Lampung dan Inisiator Pasar Kreatif Payungi--Ist
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Saya sering mengatakan pemberdayaan adalah pendidikan dan pendidikan adalah pemberdayaan. Tapi saya takut pemahaman kita yang bertarung di akar rumput kembali teringat ruang formal yaitu sekolah.
Ada kekacauan yang cukup getir dalam praktik pemberdayaan masyarakat kita hari ini. Di berbagai pelosok, acara pelatihan peningkatan kualitas manusia terus digelar. Panggung didirikan, spanduk berslogan muluk dibentangkan, dan pejabat memotong pita. Namun, ketika tenda digulung dan spanduk diturunkan, warga tetap berada di titik yang sama, tidak berdaya.
Pemberdayaan masyarakat sedang mengalami domestikasi dan penyempitan makna secara masif. Ia terjebak dalam perangkap pragmatisme kaku ala formalisme sekolah. Pengetahuan dikerdilkan sekadar menjadi ajang berburu sertifikat, menggugurkan presensi kehadiran, serta memenuhi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) penyerapan anggaran. Pola pendidikan yang ditawarkan pun sangat instruktif, seremonial, dan menggurui. Akibatnya, pengetahuan yang ditransfer terasa steril, berjarak dari realitas akar rumput, dan pada akhirnya tidak melahirkan transformasi sosial.
Keresahan mendasar inilah yang mestinya menjadi cermin kritis bagi ekosistem pemberdayaan. Pemberdayaan dapat mengambil posisi sebagai ruang alternatif ketika ada "sekolah formal" yang semakin hari semakin pragmatis dan telah gagal mengubah nasib negara. Sistem pendidikan formal yang mencoba menyapa warga melalui KKN, PPL, Sosialisasi, Pengabdian juga menempatkan warga sebagai "wadah kosong" yang harus diisi oleh para ahli dari luar. Pola ini tak ubahnya kelanjutan dari watak kolonial; mendikte, menghukum, dan menyeragamkan. Akibatnya, alih-alih merasa berdaya, warga justru mengidap mentalitas inferior.
Untuk membongkar kebuntuan ini, kita perlu menengok kebudayaan nusantara telah lama menyimpan instrumen pedagogi yang cukup kritis dan humanis. Ki Hajar Dewantara mengingatkan istilah Pamong atau Among/ngemong ditambah trisula filosofi Sunda yang berembus luas di pelbagai penjuru tanah air: Asah, Asih, dan Asuh.
Pertama, Asah (Mengasah Nalar Organik). Pengetahuan bukan doktrin satu arah. Mengasah adalah dialektika dan benturan ide yang setara—di mana warga mempertajam nalar kritis untuk membaca masalah ekonomi-politik di sekelilingnya.
Kedua, Asih (Mengasihi dan Menaruh Empati). Berbeda dari ruang kelas dingin yang memadangkan kompetisi dan pemeringkatan, Asih menghadirkan pengetahuan berbasis solidaritas sosial. Belajar lahir dari rasa peduli atas penderitaan dan kesulitan tetangga.
Ketiga, Asuh (Merawat dan Menuntun). Mengasuh adalah denyut jantung dari Sistem Among ciptaan Ki Hadjar Dewantara. Penggerak pemberdayaan bukan pengajar atau instruktur yang serba tahu, melainkan pengasuh atau pamong—sosok yang menuntun, merawat, serta menjaga dari belakang (tut wuri handayani) agar tidak ada warga yang tertinggal.
Spirit Among dan Asah-Asih-Asuh ini berkelindan rapat dengan kekayaan bahasa Nusantara lainnya. Suku Bugis-Makassar mengenal Sipakatau (memanusiakan manusia tanpa hierarki), masyarakat Maluku menghidupkan Masohi (gotong royong memecahkan masalah nyata), dan di Lampung kita mengenal tradisi Manjeik serta Pitutur—dialog kehangatan berbasis keteladanan dalam ruang pergaulan sosial tanpa sekat formalitas.
Jika ekosistem pemberdayaan konsisten menjaga kecairan ruang pengetahuannya, maka proses belajar di ruang perjumpaan warga akan memicu transformasi di tiga ranah mendasar;
Pertama, Transformasi Material (Kedaulatan Ekonomi). Pengetahuan tidak boleh berhenti pada wacana abstrak. Ia harus teruji di meja dapur warga—meningkatkan pendapatan, memperbaiki gizi, mengelola aset lokal, dan melepaskan warga dari ketergantungan pada sistem ekonomi yang eksploitatif.
Kedua, Transformasi Mental (Kemandirian Berpikir). Membongkar mentalitas inferior yang membuat warga senantiasa merasa bodoh di hadapan para "ahli". Pengetahuan organik melatih warga menjadi subjek yang kritis, peka membaca masalah lingkungannya, dan berani mengambil keputusan mandiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: