Bima dan Seni Tidak Merasa Paling Tahu
Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M., Kepala Seksi Ideologi, Politik, Pertahanan, dan Keamanan pada Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta--Ist
Akan tetapi, jika dilihat dari tujuan dan manfaatnya, intelijen tidak semata-mata berbicara tentang rahasia. Salah satu bagian penting dari pekerjaan intelijen adalah membantu memahami keadaan, mengenali potensi persoalan, serta menyediakan informasi yang telah dianalisis sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya bagaimana memperoleh informasi, melainkan juga bagaimana memahami informasi tersebut secara benar dan bertanggung jawab.
Di sinilah saya melihat hubungan antara perjalanan Bima dan pekerjaan intelijen. Keduanya mengingatkan bahwa apa yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik, diperlukan kesabaran, ketelitian, dan kesediaan untuk memeriksa kembali apa yang semula dianggap benar.
Sebuah informasi yang disampaikan berulang kali belum tentu menjadi kebenaran. Sesuatu yang tampak mencurigakan belum tentu merupakan pelanggaran. Bahkan, data yang terlihat meyakinkan secara angka tetap membutuhkan penjelasan mengenai sumber, konteks, dan cara memperolehnya.
Contoh sederhana dapat kita temukan dalam pengawasan pengelolaan anggaran pemerintah.
Ketika masyarakat mengetahui sebuah perusahaan memperoleh pekerjaan bernilai besar selama beberapa tahun, keadaan tersebut tentu dapat menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas pengadaan. Pertanyaan itu wajar karena anggaran pemerintah pada hakikatnya merupakan sumber daya publik yang penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, besarnya nilai pekerjaan atau seringnya sebuah perusahaan memperoleh kontrak tidak dengan sendirinya membuktikan adanya penyimpangan. Masih diperlukan pemeriksaan terhadap proses pemilihan penyedia, kewajaran harga, kualitas pekerjaan, pelaksanaan kontrak, dan berbagai dokumen pendukung lainnya.
Sebaliknya, kelengkapan administrasi juga tidak seharusnya membuat kita mengabaikan fakta lain yang masih memerlukan penjelasan.
Sikap kritis dan kehati-hatian bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru perlu berjalan bersama.
Masyarakat berhak mengawasi penggunaan uang publik. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan informasi dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Sementara itu, aparat penegak hukum berkewajiban menilai setiap dugaan berdasarkan fakta, alat bukti, dan aturan hukum, bukan semata-mata tekanan opini.
Pelajaran serupa dapat kita temukan dalam kehidupan digital.
Tidak jarang sebuah video pendek yang beredar di media sosial langsung memunculkan berbagai penilaian terhadap seseorang. Padahal, potongan gambar mungkin hanya menunjukkan sebagian kecil dari rangkaian peristiwa. Tanpa mengetahui keadaan sebelum dan sesudahnya, kesimpulan yang diambil berisiko tidak menggambarkan kenyataan secara utuh.
Karena itu, sebelum membagikan informasi atau memberikan penilaian, tidak ada salahnya kita meluangkan sedikit waktu untuk memeriksa sumber, mendengarkan penjelasan pihak terkait, dan mempertimbangkan kemungkinan adanya informasi yang belum diketahui.
Menunda kesimpulan bukan berarti menghindari kebenaran. Justru sikap tersebut dapat menjadi bagian dari upaya untuk mendekati kebenaran secara lebih bertanggung jawab.
Dalam kajian psikologi kognitif dikenal istilah confirmation bias atau bias konfirmasi, yakni kecenderungan seseorang untuk lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri dan kurang memberikan perhatian terhadap informasi yang bertentangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: