Bima dan Seni Tidak Merasa Paling Tahu

Bima dan Seni Tidak Merasa Paling Tahu

Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M., Kepala Seksi Ideologi, Politik, Pertahanan, dan Keamanan pada Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta--Ist

Oleh: Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M.

Kepala Seksi Ideologi, Politik, Pertahanan, dan Keamanan pada Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta

 

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Kita hidup pada masa ketika informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kebenaran belum tentu semakin mudah dipahami. Setiap hari, berbagai berita, angka, foto, video, dan pendapat hadir melalui layar telepon genggam. Dalam hitungan detik, sebuah peristiwa dapat menjadi perbincangan banyak orang. Bahkan, sebelum duduk persoalannya diketahui secara utuh, kesimpulan tentang siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang harus bertanggung jawab sering kali sudah terbentuk.

Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan. Namun, di tengah derasnya arus informasi, muncul pertanyaan sederhana yang rasanya semakin penting untuk direnungkan: apakah semakin banyak informasi yang kita miliki berarti semakin baik pula pemahaman kita terhadap suatu persoalan?

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada kisah Bima dalam pewayangan Jawa, khususnya lakon Dewa Ruci. Sebuah cerita yang telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat, tetapi nilai-nilainya tetap relevan untuk memahami kehidupan modern, termasuk cara manusia memperlakukan pengetahuan dan menggunakan kewenangan.

Bima dikenal sebagai sosok yang kuat, berani, jujur, dan teguh pada pendirian. Namun, ketika menjalani perjalanan mencari Tirta Prawitasari, air kehidupan yang dalam berbagai penafsiran dimaknai sebagai perlambang pengetahuan sejati, kekuatan fisik ternyata tidak cukup untuk menjawab seluruh pertanyaannya.

Ia harus melewati berbagai rintangan, memasuki samudra, hingga akhirnya bertemu dengan Dewa Ruci, sosok kecil yang justru membimbingnya memahami makna kehidupan.

Di situlah letak keindahan filosofis kisah tersebut. Bima yang bertubuh besar dan memiliki kekuatan luar biasa ternyata masih harus belajar dari sosok yang jauh lebih kecil darinya. Keberanian dan keteguhan hatinya tidak menjadikan ia mengetahui segala sesuatu.

Bagi saya, pertemuan itu menyimpan pelajaran sederhana tentang kerendahan hati. Pengetahuan tidak selalu datang dari orang yang memiliki kedudukan tinggi, kekuasaan besar, atau suara paling keras. Terkadang, pemahaman yang berharga justru hadir melalui pengalaman kecil, percakapan sederhana, atau penjelasan seseorang yang sebelumnya tidak kita perhitungkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami keadaan serupa. Sesuatu yang semula kita yakini benar ternyata memiliki sisi lain setelah mendengar penjelasan orang lain. Persoalan yang tampak sederhana ternyata menyimpan latar belakang yang jauh lebih rumit daripada dugaan pertama.

Kisah Bima tentu memiliki beragam penafsiran dalam tradisi filsafat dan kebudayaan Jawa. Saya tidak bermaksud menempatkan salah satunya sebagai tafsir yang paling tepat. Namun, ada satu nilai yang menarik untuk dijadikan bahan perenungan bersama: semakin banyak yang kita ketahui, semestinya semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum kita pahami.

Pemikiran tersebut terasa dekat dengan bidang pekerjaan yang berhubungan dengan pengumpulan, pengolahan, dan analisis informasi, termasuk intelijen.

Dalam pandangan masyarakat, intelijen sering kali dikaitkan dengan kegiatan rahasia, pengamatan, ataupun kemampuan memperoleh informasi yang belum diketahui orang lain. Gambaran tersebut dapat dimengerti karena sebagian kegiatan intelijen memang memiliki karakteristik yang tidak sepenuhnya terbuka.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: