Lebaran: Pinjol dan Paylater Meningkat

Lebaran: Pinjol dan Paylater Meningkat

layanan pinjaman daring (pinjol) dan sistem paylater akan meningkat drastis menjelang Lebaran 2025.--Dok Radarmetro.disway.id

oleh: Prof. Admi syarif, PhD

Dosen Unila dan tukang tulis

 

RADARMETRO.DISWAY.ID -- Pagi ini, usai subuh sambil Ngopi pagi dan menikmati juadah khas ukun Lampung (Juada bakkit),  saya tertegun membaca sebuah berita dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga tersebut memprediksi bahwa jumlah masyarakat Indonesia yang memanfaatkan layanan pinjaman daring (pinjol) dan sistem paylater akan meningkat drastis menjelang Lebaran 2025. Memang kopiKamoung disruput. dengan juadah Bakkit maknyus temon !

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Agusman, menyampaikan bahwa outstanding pembiayaan melalui skema Buy Now Pay Later (BNPL) mengalami peningkatan sebesar 31%. Sementara itu, pembiayaan dari industri pinjol juga naik hingga 24,16%. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia berbicara banyak tentang fenomena sosial yang sedang kita hadapi.

Lebaran, bagi sebagian besar masyarakat, memang telah bergeser menjadi ajang “pamer tahunan”. Di Pulau Jawa, kabarnya penyewaan iPhone menjelang Idulfitri sangat laris. Kredit barang menjadi hal lumrah: mulai dari ponsel, motor, mobil, hingga oleh-oleh—semuanya bisa dicicil lewat paylater di platform e-commerce. Bahkan, ada yang sampai isi kantongnya pun hasil pinjaman dari pinjol. Sungguh ironis.

Saya merasa bahwa salah satu penyebab utama kondisi ini adalah mudahnya akses pinjaman online tanpa edukasi yang memadai. Tak mengherankan bila banyak anak muda, bahkan mahasiswa, sudah terjebak dalam lingkaran pinjol. Gaya hidup instan, keinginan untuk tampil, dan tekanan sosial menjadikan jebakan ini makin nyata.

Menurut saya, solusi terbaik untuk mengatasi fenomena ini adalah dengan memperkuat literasi keuangan sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga dan pendidikan formal. Edukasi pengelolaan keuangan pribadi, risiko utang, serta pentingnya menabung harus menjadi bagian dari kurikulum sekolah dan kampus.

Selain itu, Pemerintah bersama OJK perlu memperketat pengawasan terhadap penyedia layanan pinjol dan paylater, serta mendorong penyedia untuk lebih transparan dalam menyampaikan risiko dan biaya tersembunyi kepada pengguna. 

Bagaimana dengan peran strategsi PPendidikan Tinggi dan kita sebagai Akademisi ?Dunia kampus sejatinya tidak boleh diam. Pendidikan tinggi dan para akademisi memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk aktif membentuk pola pikir masyarakat agar melek finansial dan berpikir kritis terhadap gaya hidup konsumtif.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, riset sosial-ekonomi, dan program literasi keuangan kampus, para dosen dan mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Menikmati senja di Tanjung Karang

Bersama cinta dan cahaya remang.

Tak perlu mewah tak perlu berhutang,

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: