Tumbuh 5 Persen, Rakyat Berharap Sejahtera
Rizky Sugeng Riadi: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Seperti jalan di Tempat--Ist
Oleh: Rizky Sugeng Riadi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Universitas Wira Buana
Editor: Guswir
RADARMETRO.DISWAY.ID -- Lima persen. Angka yang terdengar aman—cukup tinggi untuk dipuji, cukup stabil untuk menenangkan. Pemerintah bahkan mencatat kinerja yang lebih optimistis: pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen pada 2025, dengan kuartal IV menyentuh 5,39 persen dan tertinggi kedua di G20 setelah India, di tengah pertumbuhan global yang stagnan di kisaran 3 persen.
Pada 13 Februari 2026 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto melaporkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah berbagai tantangan global. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada tahun 2025 dengan kuartal keempat mencapai 5,39% , tertinggi kedua di G20 setelah India.
Menurutnya, pertumbuhan global masih stagnan di sekitar 3%. indikator sosial juga dilaporkan membaik. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, rasio Gini membaik ke 0,363, dan pengangguran terbuka turun menjadi 4,74 persen dengan serapan tenaga kerja mencapai 2,71 juta orang.
Berangkat dari capaian tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,4–5,6 persen melalui akselerasi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Program 3 Juta Rumah (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Siaran Pers No. HM.02.04/52/SET.M.EKON.3/02/2026, Jakarta, 13 Februari 2026).
Secara makro, gambaran ini terlihat solid. Stabilitas terjaga, pertumbuhan berlanjut, dan indikator sosial menunjukkan perbaikan.
Namun justru di situlah persoalannya, dibalik narasi optimisme tersebut, sekitar 25 juta penduduk masih hidup dalam kemiskinan (Badan Pusat Statistik, Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2024, Jakarta: BPS, 2024), sementara posisi Indonesia dalam Indeks Pembangunan Manusia masih tertinggal di tingkat global (UNDP, Human Development Report 2024: Breaking the Gridlock, New York: United Nations Development Programme, 2024).
Situasi ini menegaskan apa yang diingatkan oleh Amartya Sen bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti pembangunan, karena pembangunan sejati adalah perluasan kapabilitas manusia (Sen, Development as Freedom, New York: Alfred A. Knopf, 1999).
Dengan kata lain, capaian makro bisa membaik, tetapi belum tentu kesejahteraan dirasakan secara merata, bahkan selama hampir satu dekade, Indonesia tidak benar-benar meloncat. Kita tidak jatuh, tetapi juga tidak melompat. Kita bertahan di zona nyaman pertumbuhan, stabil, tetapi stagnan. Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya pertumbuhan, melainkan pada siapa yang benar-benar merasakan hasilnya.
Ketika jutaan orang tetap berada dalam kemiskinan dan ketimpangan tidak banyak berubah, pertumbuhan kehilangan makna sosialnya. Ia menjadi angka yang rapi dalam laporan, tetapi tidak sepenuhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, persoalan kita bukan sekadar kegagalan implementasi kebijakan. Persoalannya lebih mendasar, yakni ada yang keliru dalam desain pembangunan itu sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: