100 TAHUN PONDOK PESANTREN GONTOR

100 TAHUN PONDOK PESANTREN GONTOR

Foto: Wakil Rektor UM Metro Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed dan Staf Ketua MUI Kota Metro Lampung-(Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed)-

Dalam hal ini  Pesantren Gontor sebagai institusi Pondok Pesantren tidak berpolitik praktis. Hal itu sudah menjadi prinsip dari Pondok Pesantren Gontor “Di Atas dan untuk Semua Golongan”. 

Pondok Pesantren  Gontor sebagai institusi tentu tidak berpolitik secara praktis, apalagi dikaitkan dengan Pondok Pesantren Gontor, jadi pesantren  Gontor netral politik, netral partai politik, netral sikap politik dan harapannya Capres maupun Cawapres untuk  tidak berkunjung ke Pondok Pesantren  Gontor dalam kaitannya dengan kampanye politik praktis. 

BACA JUGA:Sate Daun Ubi, Makanan Khas NTT Bercitarasa Kearifan Lokal

Bagi para santri Pondok Pesantren Gontor, lanjutnya, sejak awal ditanamkan sifat ke-Indonesiaan dalam kehidupan sehari-hari tanpa dibeda-bedakan latar belakangnya,  para guru, santri dan alumni Pondok Pesantren  Gontor tidak terikat secara eksklusif dengan organisasi ini, tetapi mereka tetap bebas menjadi anggota organisasi lain. 

Hal ini mengingat Pondok Pesantren  Gontor tidak berafiliasi kepada golongan manapun dan tetap berprinsip “Berdiri di atas dan untuk semua golongan”.

Dengan harapan Para alumninya diamanati untuk menjadi perekat umat di tengah-tengah masyarakat. 

Menurut Hidayat Nur Wahid sebagai Ketua Badan Wakaf Pondok Gontor yang juga Wakil Ketua MPR menyatakan bahwa para capres silakan datang ke pesantren lainnya yang memungkinkan mendapatkan dukungan praktis," ujarnya Meski Gontor tidak berpolitik, selain itu beliau menegaskan Gontor tetap mendidik masyarakatnya tidak buta politik, bahkan memberikan kebebasan santrinya untuk aktif dalam kegiatan keormasan, LSM, termasuk terjun ke partai politik.

Dengan demikian para  alumni tetap dituntut secara moral mempertahankan ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat dalam golongan mana pun berada.

Dengan terbebasnya Pondok Pesantren Gontor dari muatan politis dan kepentingan golongan, jiwa keikhlasan dalam belajar dan mengajar dapat mengakar di jiwa para santri dan guru serta alumninya.

Dengan jalan demikian, setelah jadi alumni  Pondok Pesantren Gontor, mereka bebas memilih paham, aliran, golongan, partai, tanpa mengurangi prinsipnya sebagai seorang mukmin-mukminat. 

BACA JUGA:Langkah Pemberantasan KKN oleh KPK, Polri, dan Kejagung Terlihat Lambat dan Minim Respons

Semoga Pondok Pesantren Gontor tetap istiqomah dan komitmen  serta tetap berpegang teguh dengan falsafah, tujuan dan misinya sampai akhir zaman sebab Pondok Pesantren Gontor sudah diwakafkan kepada Ummat Islam, semoga menjadi panutan atau contoh bagi pondopk pesantren alumni dan pesantren lainnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: