Sejarah singkat Taman Pugung Raharjo beserta pemanfaatan Benteng Parit untuk beberapa aspek Etnobiologi

Sejarah singkat Taman Pugung Raharjo beserta pemanfaatan Benteng Parit untuk beberapa aspek Etnobiologi

--

Oleh : Aina Rahma Dini

Annisa Safitri

Kharisma Aulia Putri

Lusiana Manullang

Nisa Nurmalia

Putu Yunanda Putri

Rohid Simamora

Tria Asri Wulandari

Sejarah singkat adanya taman purbakala Pugung Raharjo pada tahun 1957 ditemukannya hutan didaerah Lampung tepatnya Lampung Timur.

Pada Tahun tersebut masyarakat menemukan bebatuan yang berserakan dan menggambarkan batu mayat karena roboh seperti mayat, hal ini membuat masyarakat setempat melaporkan pada pihak pemerintahan untuk dilakukannya obervasi, selain batu mayat ditemukan juga batuan berserakan yang membentuk  gundukan.

Hal tersebut yang menyebabkan daerah ini disebut dengan taman Pugung Raharjo, karena Pugung dalam bahasa Lampung  berarti gundukan dan Raharjo dalam bahasa Jawa berarti makmur.

Pada awalnya batu ditemukan pada 13 titik hingga pada akhirnya menyisakan 7 titik batu gundukan yang dikenal dengan nama punden.

Tanam Pugung Raharjo melewati beberapa pergantian zaman dimulai prasejarah atau mesolitikum, klasik hingga zaman islam

Di taman Pugung Raharjo tepatnya di zaman Mesolitikum ditemukan nya benteng menyerupai gundukan tanah dengan panjang 300 M dan benteng sebelah timur dengan panjang 1.200 M, lalu punden berundak yang terbagi menjadi 13 titik dan yang terselamatkan hanya 7, kemudian arca, batu mayat untuk fasilitator pemujaan nenek moyang, altar batu, menhir, serta keramik dari dinasti han, sung, ming. Selain itu ditemukan juga kolam megalitik yang di percayai oleh masyarakat hindu sebagai mata air suci. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: