Strategi Bertahan Hidup Hewan Lumba – Lumba di Lingkungan Yang Ekstrem

Kamis 05-12-2024,14:43 WIB
Reporter : Nadia Ningsih
Editor : Devi Oktaviansyah

Mereka menggunakan echolocation untuk mendeteksi objek di sekitarnya, yang membantu mereka menemukan mangsa, menghindari rintangan, dan memperingatkan kelompoknya akan bahaya, termasuk predator seperti hiu.

Menariknya, lumba-lumba sering kali menjadi ancaman bagi hiu karena kecerdasan dan kemampuan mereka untuk berkoordinasi dalam kelompok, yang membuat hiu sering kali menghindari mereka.

Mereka menunjukkan berbagai strategi adaptasi yang kompleks, baik secara fisik maupun perilaku, untuk bertahan hidup di lingkungan yang terus berubah akibat perubahan alam dan aktivitas manusia.

Berikut adalah beberapa strategi utama lumba-lumba untuk bertahan hidup yaitu adaptasi fisik, kemampuan echolocation dan navigasi, perilaku sosial dan kerja sama, bermigrasi, adaptasi terhadap polusi dan aktvitas manusia.

Adaptasi Fisik, lumba – lumba memiliki adaptasi fisik yang membantu mereka untuk bertahan hidup di lingkungan laut.

Salah satu adaptasi terpenting adalah lapisan lemak tebal (blubber) yang melindungi tubuh mereka dari suhu air yang dingin, terutama di daerah kutub yang suhunya rendah. Lapisan lemak ini berfungsi juga untuk cadangan energi saat makanan sulit di temukan.

Penyesuaian suhu tubuh juga sangat penting untuk bertahan di perairan yang sangat ekstrem. Bentuk tubuh lumba – lumba yang aerodinamis memungkinkan lumba - lumba untuk berenang dengan sangat cepat, kecepatan ini membantu lumba – lumba menghindari predator.

Kemampuan menyelam lumba – lumba juga sangat membantu mereka dalam mencari sumber makanan di kedalaman yang lebih dalam.

Kemampuan Echolocation dan Navigasi, merupakan salah satu kemampuan dari hewan lumba – lumba untuk bernavigasi dan berburu di lingkungan bawah laut yang gelap. Selain untuk berburu, echolocation juga di gunakan oleh lumba – lumba untuk menghindari rintangan dan ancaman dari predator.

Perilaku sosial dan kerja sama, lumba – lumba merupakan hewan yang biasa berkelompok, lumba – lumba sering bekerja sama dalam mengepung dan menggiring ikan ke dalam formasi tertentu, sehingga lebih mudah untuk di tangkap.

Perilaku ini jugalah yang menjadi strategi lumba – lumba untuk bertahan hidup. Perilaku sosial merupakan suatu ikatan antar individu di dalam suatu populasi.

Perilaku ini didasarkan pada kepentingan kelompok seperti peningkatan laju keberhasilan reproduksi, perlindungan terhadap anggota kelompok, dan pemenuhan kebutuhan makanan.

Bermigrasi, juga merupakan salah satu strategi lumba – lumba untuk bertahan hidup dari lingkungan yang ekstrem.

Perubahan lingkungan seperti tercemarnya air laut akibat banyak sampah yang di buang ke laut oleh pegunjung pantai yang membuat lumba – lumba merasa kesulitan untuk berenang bebas karena gangguan sampah tersebut, salah satu nya juga perubahan lingkungan akibat pemanasan global yang dapat membuat lumba – lumba meninggalkan habitatnya dan mencari habitat yang baru atau bermigrasi dan tentunya memerlukan adaptasi untuk lumba – lumba.

Adaptasi terhadap polusi dan aktivitas manusia, lumba – lumba juga menghadapi tantangan besar di lingkungan perairan yang telah mengalami polusi laut dan akibat aktivitas manusia seperti penangkapan ikan berlebihan, dantumpahan minyak. Lumba – lumba yang hidup di perairan tercemar pasti akan menunjukan perubahan perilaku seperti menghindari area tercemar dan beralih ke tempat yang lebih aman.

Tingkah laku yang sering dilakukan oleh lumba-lumba meliputi travelling atau membentuk kelompok dalam kegiatan mencari mangsa dan pergerakan untuk migrasi, gerakan aerials yang merupakan gerakan salto, berputar dan berbalik sebelum masuk ke dalam air, bowriding yaitu tingkah laku lumba-lumba yang berenang mengikuti kapal dan feeding yang merupakan kegiatan ketika sedang mencari makan (Pranatami, dkk 2023).

Kategori :