8. Pempek dan Kerupuk Ikan Lampung
Meskipun berasal dari Palembang, pempek telah menjelma menjadi makanan favorit warga Lampung. Varian seperti lenjer, kapal selam, adaan, kulit, dan kates bisa Anda temukan dengan mudah di toko-toko pempek terkenal seperti Pempek 123, Tenda Biru, atau Pempek Lala.
Rasanya pun tak kalah dengan yang ada di Sumatera Selatan—bahkan beberapa orang bilang lebih cocok di lidah mereka. Dengan cuko yang khas dan tingkat pedas sesuai selera, pempek Lampung siap memanjakan perantau yang rindu kampung halaman. Mungkin karena Lanpung negeri yang ikannya melimpah ruah. Sehingga ikan-ikan yang dibuat pempek di Lampung masih segar. Anda tentu saja boleh menambahkan beberapa plastik kerupuk ikan yang maknyus ke dalam keranjang anda. Mumpung masih ada di Lampung lo. Repot mau kirim-kirimnya !
9. Juadah Bakkit: Cerita Warisan Leluhur
Tak banyak yang tahu bahwa di balik gemerlap oleh-oleh modern, Lampung masih menyimpan kekayaan kuliner warisan nenek moyang yang terus dijaga hingga kini. Salah satunya adalah Juadah Bakkit. Makanan tradisional ini mungkin tak sepopuler keripik pisang atau bakso Sony, namun bagi warga Lampung asli, juadah bakkit adalah simbol rasa rindu, kenangan masa kecil, dan kebanggaan budaya.
Juadah bakkit terbuat dari campuran ketan putih yang dimasak dengan santan, kemudian dipadatkan dan dipanggang menggunakan bara api dari tempurung kelapa. Rasanya gurih, sedikit manis, dan memiliki aroma khas dari daun pisang yang digunakan sebagai alas pembakaran. Teksturnya padat, namun lembut saat digigit—seolah menghadirkan keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan seperti karakter orang Lampung.
Jika kamu ingin membawa oleh-oleh yang lebih dari sekadar camilan, maka juadah bakkit adalah pilihan istimewa. Tak semua toko menjual juadah bakkit, tapi jika kamu mau membelinya, kamu bisa menghibung Nuwono Tasya— cafe dan resto full ke-Lampung-an.
10. Dodol Lampung
Jika kita berbicara tentang makanan manis yang mampu menyatukan keluarga dalam satu meja, maka dodol Lampung layak masuk dalam daftar itu. Dodol memang dikenal di banyak daerah di Indonesia, namun dodol dari Lampung memiliki cita rasa dan ciri khas tersendiri yang membedakannya dari yang lain.
Dibuat dari campuran ketan, santan, dan gula aren, dodol Lampung dimasak dalam wajan besar di atas api kayu selama berjam-jam. Proses pengadukannya tak boleh berhenti, harus konstan, dan biasanya dilakukan secara gotong royong. Tak heran, dalam budaya Lampung, membuat dodol sering menjadi ajang silaturahmi dan kerja sama antarkeluarga menjelang hari besar seperti Lebaran.
Tekstur dodol Lampung lebih padat namun lembut ketika dikunyah. Warna cokelat pekat dari gula aren asli memberikan rasa manis yang tidak menyengat—malah cenderung menenangkan.
11. Gula Semut Lampung:
Tak banyak yang tahu, Lampung juga menyimpan harta tersembunyi dalam bentuk manis alami yang sehat dan ramah lingkungan: gula semut. Disebut demikian karena bentuknya yang butiran halus menyerupai koloni semut, gula semut Lampung merupakan produk olahan dari nira aren yang dikeringkan secara alami hingga berbentuk kristal lembut berwarna cokelat keemasan.
Gula semut sering dijadikan pengganti gula putih oleh mereka yang ingin hidup lebih sehat—termasuk para pecinta kopi, teh, dan makanan organik.
Kamu bisa membelinya sebagai oleh-oleh di Nuwono Tasya Coffee
⸻