Dari Semir Sepatu ke Guru Besar

Dari Semir Sepatu ke Guru Besar

Dari Keterbatasan, Doa Ibu, dan Jalanan Palembang Menuju Puncak Peradaban Ilmu--Ist

Pesan itu tidak selalu terdengar keras. Tapi ia tinggal, menguat di saat-saat paling rapuh.

Masa kecil Ihsan bukan masa kecil yang ringan.

Di sekitar Masjid Agung Palembang, ia pernah duduk kecil dengan kotak semir di tangan. Mengilapkan sepatu orang-orang yang berjalan cepat mengejar urusan mereka, tanpa pernah tahu bahwa anak kecil di hadapan mereka sedang berjuang menulis masa depannya sendiri.

Ia juga menjajakan es bungkus dari sekolah ke warung-warung. Ketika hujan turun dan dagangannya kembali tak laku, ia pulang dengan langkah yang lebih pelan.

Tapi tidak pernah berhenti.

Di situlah ia belajar sesuatu yang tidak diajarkan di buku: bahwa hidup tidak selalu memberi hasil, tetapi selalu memberi arah.

Saat SMP, ia berjalan kaki. Kadang bersepeda. Sementara yang lain melaju dengan kendaraan.

Ia tidak pernah memprotes jalan hidupnya. Ia memilih menjalaninya dengan penuh kesadaran, menikmati, mensyukuri setiap langkah, dan terus bergerak maju.

Dalam diam, ia menyimpan satu keyakinan yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang: bahwa hidup ini harus berubah.

Namun ujian itu sesungguhnya datang saat kuliah, Ada masa ketika ia hampir tidak punya apa-apa. Tidak cukup uang. Tidak cukup tempat.

Ia tidur di ruang marbot masjid. Beralaskan lantai. Berselimut lelah, Dan di malam-malam panjang itu, ia tidak hanya memejamkan mata.

Kala itu Ia berdoa, di lantai dingin itu, ia menggantungkan semua harapannya kepada Allah. Ia mengingat pesan ibunya, tentang shalat, tentang sabar, tentang tidak menyerah.

Di situlah, dalam kesunyian yang tidak terlihat orang lain, kekuatan itu tumbuh.

Pelan… tapi pasti.

Langkahnya kemudian menemukan jalan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: