Dari Semir Sepatu ke Guru Besar
Dari Keterbatasan, Doa Ibu, dan Jalanan Palembang Menuju Puncak Peradaban Ilmu--Ist
Ia berdiri di forum-forum internasional, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, hingga Timur Tengah.
Namun ada satu momen yang tak pernah ia lupakan. Ketika ia diundang sebagai keynote speaker dalam konferensi internasional di Bahawalpur, Pakistan.
Sebuah negeri dengan dinamika konflik.
Sejak turun dari pesawat, ia dikawal tentara bersenjata. Menuju hotel. Hingga kembali pulang.
Di tengah pengawalan itu, mungkin ia sempat terdiam, ia mengingat kembali dirinya yang dulu, anak kecil yang menyemir sepatu di sudut jalan Palembang.
Dan kini… berjalan di tanah asing, dijaga ketat, untuk berbicara tentang ilmu. Perjalanan itu terasa seperti mimpi. Tapi ia nyata.
Dalam hidupnya, ia tidak berjalan sendiri.
Ia membawa nilai dari ibunya. Ia mengingat pesan ayahnya. Ia belajar dari tokoh-tokoh seperti Hasan Abdullah Sahal dan Mahsusi.
Semua itu membentuk cara pandangnya tentang pendidikan.
Bahwa pendidikan bukan sekadar ruang belajar tetapi jantung peradaban.
Dan di ujung perjalanan panjang itu, ia melontarkan kalimat yang seolah menghentikan waktu—membuat ruangan hening, dan hati siapa pun yang mendengar seakan tertarik masuk ke dalam maknanya, bahwa
“Pendidikan adalah jantung peradaban. Jika ia rapuh, manusia akan kehilangan arah.”
Bukan sekadar kalimat ilmiah. Itu adalah kesimpulan dari hidup yang ditempa oleh luka, doa, dan keteguhan.
Lalu, dengan suara yang tetap tenang—namun terasa jauh lebih dalam, ia menambahkan bahwa
“Teknologi boleh melesat… tapi tanpa nilai, manusia akan kehilangan dirinya sendiri.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: