Dari Semir Sepatu ke Guru Besar
Dari Keterbatasan, Doa Ibu, dan Jalanan Palembang Menuju Puncak Peradaban Ilmu--Ist
Kalimat itu tidak menggema keras, tetapi jatuh perlahan… dan menetap.
Kini, ia berdiri sebagai Guru Besar.
Namun bagi Ihsan, ini bukan puncak. Bukan garis akhir. Ini adalah amanah, yang justru terasa lebih berat dari seluruh perjalanan yang telah ia lewati.
Karena ia tahu betul, dirinya tidak dibentuk oleh kemudahan. Ia ditempa oleh keterbatasan, oleh hari-hari yang sunyi, oleh malam-malam yang dingin, oleh keadaan yang berkali-kali hampir mematahkan langkahnya.
Dan ia tidak pernah membiarkan semua itu menjadi alasan untuk berhenti.
Maka jika kisah ini membuat dada terasa sesak…
Jika mata perlahan basah tanpa diminta…
mungkin itu bukan karena sedih.
Tetapi karena kita diingatkan kembali
bahwa harapan itu selalu ada.
Bahwa jalan itu selalu terbuka.
Bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh…
bagi mereka yang terus berjalan
meski hidup, berkali-kali, mencoba menghentikan langkahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: