Dari Semir Sepatu ke Guru Besar

Dari Semir Sepatu ke Guru Besar

Dari Keterbatasan, Doa Ibu, dan Jalanan Palembang Menuju Puncak Peradaban Ilmu--Ist

Beasiswa demi beasiswa datang, dari Pemda DKI Jakarta, Baznas, hingga Kementerian. Ia menyelesaikan S1 dalam 3,5 tahun dengan cumlaude. S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia hanya dalam 3 semester. S3 bahkan ditempuh dalam 2 tahun, kembali dengan cumlaude.

Namun angka-angka itu tidak pernah menceritakan semuanya,  Ada satu fase ketika ia tidak mendapatkan cumlaude. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena waktunya habis untuk mengajar Al-Qur’an dari rumah ke rumah, dan di Sekolah Integrasi Kaffah Malaysia.

Ia memilih mengabdi… ketika yang lain memilih mengejar nilai.

Sepulang dari S2, saat masih melanjutkan S3, ia mulai mengajar di perguruan tinggi. Honor pertamanya: Rp150 ribu.

Kecil, jika dilihat dari angka, tapi bagi Ihsan, itu adalah bukti bahwa jalan ini nyata.

Dan di titik yang sama, ketika hidupnya belum benar-benar mapan, ia melakukan sesuatu yang bahkan orang lain mungkin belum berani.

Ketika Ia melamar. istri tercinta saat ini, di kalangan keluarga sempat terkejut.

Bagaimana mungkin seseorang dengan kondisi seperti itu berani mengambil langkah sebesar itu?

Namun keyakinan tidak selalu menunggu kesiapan.

Lamarannya pun diterima, kemudian melanjutkan ke jenjang pernikahan itu berlangsung dalam sangat sederhana, yang nyaris tak terbayangkan. 

Maharnya kala itu hanya membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali.

Tidak ada kemewahan. tidak ada gemerlap.

Hanya keikhlasan yang utuh.

Dan seorang istri yang ridha, yang memilih berjalan bersamanya, dari titik nol, tanpa jaminan apa-apa selain keyakinan.

Perjalanan itu kemudian membawanya jauh melampaui batas yang dulu terasa mustahil.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: