Dari Semir Sepatu ke Guru Besar

Dari Semir Sepatu ke Guru Besar

Dari Keterbatasan, Doa Ibu, dan Jalanan Palembang Menuju Puncak Peradaban Ilmu--Ist

METRO, RADARMETRO.DISWAY.ID — Ada kisah yang tidak selesai dibaca dalam sekali duduk. Ia tinggal, mengendap, lalu perlahan mengetuk hati. Sabtu pagi itu, 25 April 2026, di Wisma Al Khairiyah Metro, ketika Universitas Muhammadiyah Metro menggelar Sidang Terbuka Senat Akademik, yang terjadi bukan sekadar pengukuhan seorang Guru Besar.

Yang berdiri di podium itu adalah sebuah perjalanan hidup.

Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed. nama yang kini disematkan dengan gelar profesor, pernah memulai segalanya dari titik yang hampir tak terlihat. Dari jalanan, Dari peluh. Dari sunyi yang panjang.

“Dari anak penjual es dan penyemir sepatu di jalanan Palembang,  hingga berdiri di panggung akademik internasional.”

Kalimat itu bukan sekadar narasi. Ia adalah jejak.

Ia lahir di Palembang, 29 Juli 1975, sebagai anak keenam dari sembilan bersaudara. Lima kakak, tiga adik, sebuah keluarga besar yang tidak dibangun oleh kemewahan, tetapi oleh kesabaran yang dipelihara setiap hari.

Di rumah itu, tidak ada jaminan hidup mudah. Yang ada hanyalah keyakinan: semua anak harus sekolah.

Ayahnya, seorang pekerja keras yang pernah berjuang di PHDM (Nama Sebuah Perusahaan) dan menapaki hidup sebagai wiraswasta kecil, tidak banyak memberi warisan materi. Namun ia meninggalkan satu pesan yang jauh lebih dalam dari segalanya, bahwa 

“Saya tidak minta apa-apa saat kelak kamu sukses, Ihsan, Cukup kamu datang saat saya meninggal… menshalatkan saya… mengantarkan ke kubur… dan menyiapkan kain kafan.” Prof Ihsan menceritakan kepada jurnalis ini dengan mata berkaca-kaca.

Pesan itu sederhana. Tapi justru di situlah beratnya.

Dan ketika waktu itu benar-benar datang, ketika sang ayah berpulang, Ihsan hadir. Menunaikan satu per satu amanah itu. Dalam diam, ia tahu: inilah bentuk kesuksesan yang sesungguhnya.

Ada bakti yang selesai, jika ayahnya mengajarkan tentang tanggung jawab, ibunya adalah sumber keteguhan yang tak pernah habis.

Seorang guru ngaji di TPA Al Hilal. Sederhana. Tenang. Tapi kata-katanya menjadi kompas hidup, 

“Kamu harus punya tekad. Jangan pernah putus asa. Dan bersabarlah.” diceritakan kembali prof Ihsan dengan sesekali meneteskan air mata.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: