Saat kita membagikan berita yang hanya kita baca judulnya, kita sebenarnya sedang menyuguhkan hidangan "beracun" kepada kerabat, teman, dan tetangga kita di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai.
Kita menciptakan kebingungan yang seharusnya bisa dicegah dengan sedikit kesabaran untuk membaca hingga tuntas.
Pelajaran dari Langit: Hoaks di Balik "Buah Khuldi"
Kita mungkin mengira hoaks adalah fenomena modern yang lahir bersama internet. Padahal, jika kita membuka lembaran religi, tragedi pertama umat manusia bermula dari sebuah kabar bohong yang tidak dicek kebenarannya.
Nabi Adam AS diturunkan dari surga bukan karena kekerasan fisik, melainkan karena ia terpapar disinformasi. Iblis tidak datang dengan wajah menyeramkan, melainkan sebagai penasihat yang seolah-olah tulus. Iblis membisikkan bahwa buah Khuldi adalah kunci keabadian. Sebuah kabar bohong yang dikemas begitu rapi dan manis, seperti juadah yang tampilannya indah namun isinya merusak.
Adam tergiur karena hanya melihat "permukaan" janji tersebut tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi) kepada Sang Pencipta.
Pelajarannya abadi dan sangat relevan dengan media sosial kita hari ini: kabar bohong yang ditelan mentah-mentah mampu mencabut kedamaian bahkan dari tempat seindah surga sekalipun.
Jika Adam saja bisa terperdaya, apalagi kita yang setiap hari dihujani ribuan informasi di layar ponsel?
Manipulasi Konteks: Saat Informasi "Dikebiri"
Dalam praktik hukum, saya sering menemukan apa yang disebut dengan Contextomy atau manipulasi konteks. Ini adalah teknik jahat di mana seseorang mengambil potongan pernyataan, lalu membuang latar belakang atau penjelasannya. Ini ibarat seseorang yang mengambil foto kita saat sedang marah, lalu menyebarkannya seolah-olah kita adalah orang yang pemarah setiap saat, padahal saat itu kita sedang memerankan sandiwara atau memberikan ilustrasi.
Sejarah mencatat betapa mengerikannya dampak kabar bohong. Perang Dunia II meletus karena rekayasa informasi yang dipercaya mentah-mentah oleh dunia. Di era sekarang, teknik ini digunakan untuk merusak kepercayaan antarnegara, memicu konflik suku, hingga menjatuhkan martabat seseorang.
Informasi yang tidak lengkap sebenarnya lebih berbahaya daripada kebohongan total, karena ada "sedikit kebenaran" di dalamnya yang digunakan untuk menipu banyak orang.
Piil Pesenggiri: Menjaga Martabat di Balik Layar
Masyarakat Lampung memiliki warisan luhur yang tiada duanya, yaitu Piil Pesenggiri. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur seperti Nemu Nyimah (bermurah hati dan terbuka) serta Sakai Sambayan (gotong royong). Budaya kita mengajarkan bahwa setiap ucapan dan tindakan adalah cerminan dari kehormatan keluarga dan kaum.
Namun, apakah martabat atau Piil itu tetap kita jaga saat jemari kita asyik scrolling? Menyebarkan kabar yang belum tentu benar tentang orang lain, atau membagikan potongan video yang menyudutkan pihak tertentu hanya agar terlihat "paling tahu", sebenarnya sedang meruntuhkan martabat kita sendiri.
Menyajikan informasi bohong atau yang belum masak itu seperti menyuguhkan Juadah yang sudah basi atau mentah kepada tamu agung. Bukannya mendapat pujian, kita justru merusak nama baik sendiri dan mempermalukan keluarga. Martabat seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia membagikan berita yang viral, tapi seberapa bijak ia menahan diri dan memastikan informasi itu "masak" secara sempurna sebelum disebarkan ke tengah ulun banyak.